KALA itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Untuk memanjat tembok bagi wanita tersebut.Ketika dia berada di atas tembok, tiba-tiba saja dia mendengar seseorang membaca ayat: "Telah datang kembali untuk orang-orang yang beriman, untuk mendukung hati mereka mengingat Allah." (QS. Al-Hadid: 16).
Begitu dia mendengar lantunan ayat ini, diapun langsung bergumam: "Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk menyetujui hati mereka mengingat Allah)."
Fudhail pun kembali (tidak dikembalikan misinya), dan kembali di bangunan rusak. Tiba-tiba datang berkelompok yang sedang lewat. Sebagian anggota rombongan itu berkata: "Kita jalan terus," sementara yang lain berkata: "Kita istirahat saja sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, dan dia akan menghadang dan merampok kita."
Mendengar hal ini, Fudhail-pun merenung: Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (mengintip sang wanita) sementara kaum muslimin di sini berjuang karenaku (mempercayai Fudhail akan menghadang mereka), dan menurutku Allah menggiringku kepada orang ini agar bisa dipanggil kemaksiatan). Ya Allah, sungguh aku telah bertobat kepada-Mu dan aku jadikan tobatku itu dengan tinggal di Baitul Haram. "(Syuab al-Iman no. 7316, juga mendukung Siyar Alaam An-Nubalaa 8/421 dan Tarikh Damaskus Ibnu Asakir, n. 52201)
Setelah bertobat dan belajar islam, beliau menjadi ulama besar. Ad-Dzahabi berkomentar tentang beliau, "Seorang imam, panutan, kuat hadisnya, syaikhul islam."
Sementara al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang beliau, "Tsiqah (terpercaya), ahli ibadah, ulama besar."
[Sumber: Kisah Nasehat/lnilah]