Oleh: Indah Noviariesta
Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa) Banten.
Dalam laporan USA Today yang ditampilkan pada tanggal 24 Januari 2017 lalu, ternyata kerajaan bisnis raksasa yang digagas Donald Trump terus merambah hingga ke wilayah Indonesia, di antaranya Bali dan Lido (Jawa Barat). Di daerah Lido, kini dipersiapkan lahan seluas 3.000 hektar untuk pembangunan hotel bintang 6, villa dan kondominium megah, hingga lapangan golf bertaraf internasional. Sedangkan di Bali, Trump sudah bekerjasama dengan pengusaha lokal Indonesia untuk menggarap kawasan Tanah Lot, bagian dari proyek raksasa yang dinamakan Trump Hotel Collection.
Proyek-proyek raksasa yang digarap negeri Paman Sam ini, tentu membutuhkan keberanian berpikir yang tidak hanya berhenti pada pertanyaan “mengapa”. Tetapi meningkat kepada bentuk pertanyaan “mengapa tidak”, dan kemudian beranjak kepada pertanyaan baru, “lantas bagaimana caranya”. Dalam penggarapan proyeknya di Indonesia, Trump berjanji tidak akan main-main. Dia sudah mempersiapkan jutaan tenaga kerja untuk dikerahkan di beberapa negara Asia, berikut tenaga ahli dan para arsitek yang sudah dirancang bersama mitra-mitra kerjanya.
Agaknya pola pikir Trump ini sulit dijangkau oleh masyarakat budaya pop dan dangdut, yang nyaman bersiul dengan perkutut kesayangannya, kemudian nongkrong mancing berjam-jam di sungai kampung seberang. Begitupun para politisinya yang masih gemar adu-domba dan kasak-kusuk mementingkan kelompok dan partainya sendiri. Belum lagi melihat tingkah polah para anggota legislatif yang genit mempertontonkan kekayaan, sambil menekan-nekan peran eksekutif. Seakan-akan rakyat belum mengerti bahwa sikap-sikap kegenitan itu justru akan menumpulkan daya nalar untuk berpikir kreatif dan inovatif.
Upaya untuk mewujudkan proyek-proyek raksasa yang diprakarsai Trump, tak lepas dari cita-cita para pendahulunya yang menolak untuk berpikir enteng dan remeh-temeh belaka. Kita masih ingat ketika Presiden John F. Kennedy berpidato di depan podium (1961) bahwa, “Kita harus sanggup menembus angkasa hingga mencapai bulan. Kita memilih untuk mewujudkan cita-cita ini, bukan karena hal ini mudah, tetapi justru karena perjalanan ini begitu berat!”
Berani Berpikir Inovatif
Di beberapa negeri tetangga kita, proyek-proyek besar juga terus dicanangkan dan diwujudkan berkat mimpi-mimpi besar para pemimpinnya. Lihat saja Singapura, yang berhasil membangun pelabuhan raksasa yang dapat menyaingi pelabuhan Shanghai di China. Sedangkan di China sendiri, dunia tercengang dengan megaproyek kanal sepanjang 1.270 kilometer untuk memindahkan air dari wilayah selatan ke utara. Di Timur-Tengah, kita juga mengenal Burj Khalifa (Dubai), sebuah gedung yang tingginya mencapai 828 meter (enam kali tugu monas). Begitupun Arab Saudi tidak ketinggalan dengan megaproyek kawasan industri yang menampung 100 pabrik, jalur kereta api ribuan kilometer, kilang minyak berkapasitas 350.000 barel perhari. Dan semua proyek raksasa ini direncanakan rampung sebelum tahun 2024 mendatang.
Lantas bagaimana dengan kita? Secara pribadi saya suka miris melihat bagaimana ulah kaum politikus kasak-kusuk untuk menjegal dan mengaduk-aduk cari keuntungan. Misalnya pada proyek berskala menengah Pelindo II di Jakarta. Belum lagi upaya penjegalan kawasan industri Maloy yang pernah digagas Gubernur Kaltim beberapa waktu lalu. Barangkali inilah salah satu penyebab, hingga negeri ini tidak pernah punya proyek berskala besar.
Beberapa waktu lalu, kita pernah bangga dengan rencana megaproyek Jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Tapi apa yang terjadi kemudian? Hmm, di sini ribut tentang masalah administratif, di sono tengkar tentang adanya risiko ini-itu, hingga kaum politikus tidak fair membicarakan ketertinggalan kita dari sisi kelautan dan maritim. Padahal kita sudah berhasil membangun proyek skala menengah di Bali, seperti pembangunan jalan tol di bibir pantai, menghubungkan Benoa dengan Nusa Dua Bali, yang saat ini sedang diincar penggunaannya untuk menghubungkan proyek-proyek baru Donald Trump.
Ketika Pantai Utara Jawa diterjang banjir besar, bangsa ini begitu reaktif mencari peluang untuk saling menyalahkan dan adu-domba. Para politisi juga memanfaatkan kesempatan untuk saling menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Hampir tidak ada pemimpin daerah yang vokal membicarakan bagaimana menciptakan peluang dari suatu bencana yang dialami. Ya, sekalipun mereka pandai berkelit, pada dasarnya hal tersebut merupakan cerminan dari lemahnya daya nalar masyarakat kita. Hingga sulit untuk mengaplikasikan ide dan gagasan-gagasan besar, agar berani bertempur menghadapi masadepan.
Tapi kan Tidak Mudah?
Kita sering mendengar politisi menyangkal dengan ucapan, “Ah, itu tidak mudah, butuh dana besar.” Ok baik, kita setuju dengan jawaban begitu, ada benarnya. Tapi mana mungkin bangsa ini bisa melahirkan karya-karya besar, kalau berpikirnya hanya mencari yang mudah dan remeh-temeh belaka. Seperti halnya debat kandidat beberapa hari lalu, ketika salah satu calon gubernur merasa kepepet atas gagasan-gagasan yang tidak mengena sasaran di hati publik, lantas kumat lagi menuduh-nuduh komunisme, PKI dan sekulerisme. Emangnya dia yang main tuduh itu siapa? Orang suci, yang bersih dari salah dan noda?
Menyaksikan dua kali acara debat kandidat gubernur Banten, kita bisa membaca dengan hatinurani, yang manakah bicara fakta yang realistis, dan manakah yang masih meraba-raba bagi proses pembangunan Banten, bahkan ada tipikal yang jauh mengawang laiknya textbook thinking,atau laiknya mahasiswa semester satu yang sedang mengajukan tesis kepada dosen pembimbingnya.
Kita kembali kepada ucapan John F. Kennedy di atas, yang juga pernah disambut oleh pidato Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Keduanya mengandung raut-raut pemikiran yang sama, bahwa pada prinsipnya, suatu bangsa harus berani bermimpi besar, serta berani pula mewujudkan impian tersebut, demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia.
Sebaliknya, jika suatu bangsa tak mau bermimpi besar, dan tak berani mewujudkan impiannya, akan ada pihak lain yang menunggangi untuk mewujudkan impian tersebut. Kalau sudah demikian, paling banter bisanya hanya teriak-teriak omong kosong: “Awas imigran gelap, awas penjajah kafir, komunis! Esok lusa akan datang kiamat! Blablabla, kreseeek… gedubrak!” (*)