Sabtu, 18 April 2026

Perang Bakat dan Keahlian

(foto ilustrasi)
Senin, 24 Apr 2017 | 19:20 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Habib M

Penulis Guru dan Pengamat Pendidikan Banten

Berbagai kreasi dalam wacana kebantenan semakin mengkristal, menunjukkan identitas dan jati diri kita sebagai warga Banten. Bila saya mengklasifikasi dalam sebuah tulisan, secara sederhana dapat dibedakan dalam kategori mereka yang berpikir dengan paradigma baru, sedangkan sebagian lain masih terkungkung dalam pola mindset lama.

Mereka yang bersikukuh pada mindset lama, tidak akan jauh dari pikiran yang terlampau mengandalkan “stabilitas” dan “keamanan” (feel insecure). Ciri khas dari mereka yang berperasaan insecure berlebihan, hidupnya seakan mengisolasi dan memproteksi diri hingga terkesan menderita paranoid. Dalam literatur psikologi dijelaskan bahwa, orang yang memiliki watak insecure berlebihan, ia punya anggapan berdasarkan perasaannya sendiri, hingga cenderung mempunyai kecurigaan seakan-akan pasangannya telah menjalin hubungan dengan orang lain.

Tindakan selanjutnya dari perasaan ini, jika dialami pihak laki-laki, dia akan memasang pagar beton tinggi-tinggi, anak dan istrinya dilarang bergaul dengan pihak lain. Sering membesar-besarkan urusan sepele, gampang marah dan menghardik siapapun yang berhubungan dengan keluarganya. Beda dengan kategori pertama yang berpikir terbuka, lebih mementingkan kemaslahatan umat, husnudzon pada orang yang selalu punya niat-niat baik.

Bila kita meneropong hal tersebut melalui perspektif budaya, saat ini bisa kita saring dengan bijak bagaimana produk-produk budaya asing bisa masuk melalui kemajuan teknologi di hadapan kita. Berbagai sinetron dan perfilman India yang banyak bersandar pada religiusitas Hindu-Budha, budaya K-Pop dari Korea Selatan yang lebih mengacu pada liberalisme Barat. Bahkan dari sisi mode dan busana seperti batik, sudah banyak impor berdatangan dari negeri Cina.

Di bidang olahraga, belum lama ini sebagian masyarakat kebakaran jenggot menyaksikan kejeniusan bocah cilik bernama Alif yang pernah dilirik oleh turnamen Arsenal di ajang sepakbola Asia, sampai kemudian terpilih sebagai the most valuable player. Tak berapa lama dia pun diboyong oleh salah satu club sepakbola Eropa untuk bergabung dengan Ajak FC. Belum lagi di bidang bulutangkis, kita mendengar salah satu pebulutangkis nasional, Hendrawan (juara dunia tahun 2001) yang direkrut Malaysia untuk menjadi pelatih di negeri jiran tersebut. Bahkan tidak sedikit orang-orang berbakat di negeri ini yang diberi kewarganegaraan di negeri asing, agar bisa menikmati hari tua yang sehat dan nyaman, ditambah dengan sarana dan fasilitas publiknya. Bahkan belakangan, kita yang dikenal kurang menghargai jasa dan perjuangan orang cerdas dan kompeten ini, akhirnya harus mengakui kehebatan tim bulutangkis Malaysia yang bergerak lebih cepat, hingga membuat kewalahan para atlet bulutangkis kita sendiri.

Di bidang akademik tidak kalah gencarnya. Kita pernah mendengar testimoni dari beberapa peneliti kelahiran Banten yang direkrut Ford Foundation untuk mengadakan penelitian historical memories di wilayah Asia. Ketika diwawancarai tentang persyaratan untuk bergabung dengan mereka, ternyata mereka hanya membutuhkan selembar Curriculum Vitae bersama fotonya. Rupanya jauh-jauh hari mereka sudah searching melalui internet perihal karya-karya para akademisi kita yang akan direkrut oleh mereka. Tidak ada yang rumit untuk bergabung dengan mereka, hanya dibutuhkan life skills yang memadai, tak ada urusan dengan nilai IPK maupun tetek-bengek sertifikasi ijazah dalam negeri.

Juga di bidang sastra dan kebudayaan, beberapa nama sudah masuk dalam catatan mereka. Misalnya penulis novel “Amba” Laksmi Pamuntjak, yang terbit sejak 2012 lalu. Tadinya Laksmi adalah sastrawati yang tak dikenal, namun ketika dipromosikan oleh Goenawan Mohamad tiba-tiba namanya melejit sebagai penulis yang disorot dunia internasional dalam penyelenggaraan Frankfurt Book Fair.

Di era persaingan terbuka ini, semakin banyak para budayawan dan ekonom yang memprediksi jangka 5 hingga 10 tahun ke depan. Bahwa kelak yang dibutuhkan sumber daya perusahaan bukan lagi soal legalitas akademik, juga bukan urusan modal maupun bahan baku, melainkan yang terpenting adalah soal bakat dan keahlian. Pada saat inilah terjadi apa yang disebut talent war (perang keahlian). Lalu siapakah yang dapat merajai era tersebut? Tak lain dan tak bukan adalah mereka yang cerdas, jenius, melek teknologi, serta tangkas dalam bekerja. Tentu saja kita berharap semoga di era yang canggih ini tidak menjadi malapetaka bagi masyarakat Banten yang kadang terlampau membanggakan masalalu. Terutama bagi mereka yang gemar berpikir dan memasang pertahanan diri dengan pola mindset lama.

Pemasok Warga Berbakat

Bagi warga Banten yang memiliki bakat tertentu, baik di bidang akademik, teknologi, budaya hingga kesenian dan olahraga, maka bersiap-siaplah untuk go international. Bersiap-siaplah menghadapi berbagai penawaran karena permintaan akan semakin melonjak. Di sisi lain, makin banyak yang dibutuhkan maka pasokan kita akan terus berkurang dari waktu ke waktu. Kemudian ketika pasokan terbatas, sementara kebutuhan terus meningkat maka terjadilah puncak dari talent war tersebut. Dengan ini para kepala daerah harus peka dan jeli dalam rangka pertempuran untuk memperebutkantalent manusia unggul ini. Masyarakat akan bebas dan merdeka, dilindungi oleh undang-undang untuk memilih yang terbaik.

Silakan saja Anda mengumbar adagium seolah-olah hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. Tapi kalau hujan batu terus-menerus, kemarau tak kunjung reda, dan taraf hidup rakyat yang tak kunjung meningkat? Sementara kaum birokrat dan penguasa laksana penjajah kesiangan, gemar memelihara para musang berbulu domba. Bagi mereka yang berpikir waras tentu akan memilih hujan emas dengan jaminan masadepan yang nyaman dan menyejahterakan.

Saat ini, di ranah Banten semakin dirasakan adanya gejala pasokan anak-anak berbakat yang makin berkurang dari waktu ke waktu. Bagaimanapun, persaingan ini betul-betul terbuka dan transparan, seperti permainan zero sum game. Itu artinya, kalau perusahaan di negeri asing mampu merekrut satu SDM yang berbakat, berarti daerah kita kekurangan satu individu dari manusia unggul. Kalau perusahaan luar berhasil memboyong 5 generasi berbakat untuk dipekerjakan, berarti kita kehilangan 5 manusia unggul Banten. Silakan saja Anda berpikir primordial, seperti ada sebagian penguasa, walikota dan bupati yang masih kaku berpikir dalam segregasi pribumi-nonpribumi. Mereka masih saja mengikat “bom waktu”, gemar memelihara jenis birokrat yang terpolarisasi olehmindset lama, pintar menjilat (ngapusi), sambil membudidayakan kompetisi agar meraih juara pertama dalam lomba korupsi tingkat daerah hingga tingkat nasional.

 

Mau Jadi Penonton?

Di zaman kenabian Muhammad Saw, kita sudah mendapat pelajaran secara historis bagaimana Rasulullah merekrut Bilal bin Rabah, seorang warga Arab keturunan Etiopia (Habasyah) yang fasih melantunkan azan dan ayat-ayat Alquran. Bahkan salah seorang sekretaris Rasul, Zaid bin Tsabit (dari Bani Kahzraj) ditekankan agar mahir menguasai bahasa Hibrani (Yahudi). Jadi, kalau masih ada masyarakat atau penguasa kita yang menolak kenyataan historis yang dijalani Rasulullah, lantas model pikiran mana lagi yang akan mereka teladani?

Coba perhatikan fakta di lapangan. Ada Andrivo Rusydi yang kini menjadi dosen di Singapura (National University of Singapore). Ada Sutardja yang kini bekerja di Amerika(CEO Marvell Technology Group). Nelson Tansu kini menjadi dosen di Amerika (Lehigh University). Khoirul Anwar sudah bekerja di Jepang (Nara Institute of Science and Technology). Khoirul Anwar adalah kelahiran Kediri, tak pernah mengganti namanya, tapi banyak kalangan birokrat dan Pemda Kediri yang tidak mengenalnya sebagai ahli di bidang telekomunikasi. Khoirul juga pemilik paten dalam sistem telekomunikasi 4G yang berbasisOrthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). Selain itu, kita pun mengenal Johny Setiawan, penemu planet yang mengelilingi bintang TW Hydrae. Anda mau tahu, di mana Setiawan tinggal? Dia telah direkrut oleh Jerman untuk memimpin penelitian di Max Planc Institute for Astronomy di Heidelberg.

Apakah saya perlu menyebut beberapa nama generasi muda Banten yang sedang dilirik untuk direkrut, menjadi pekerja atau tenaga ahli di Singapura, Korea, dan Malaysia? Ah, lain waktu saja, saya agak miris dan tidak tega untuk menyebutkan satu persatu. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Perang Bakat dan Keahlian

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1602 dibaca
Soal Narkoba, Ini Pesan Tatu kepada ASN Pemkab Serang
1018 dibaca
Kunjungi Seorang Janda, Satbinmas Polres Serang Salurkan Bantuan Sembako

HUKUM & KRIMINAL

1207 dibaca
Ditempat Berbeda, Pengedar dan Pengguna Sabu Diringkus
587 dibaca
Polsek Petir Amankan Tujuh Pelajar usai Tawuran Gunakan Sajam

POLITIK

557 dibaca
Diusung 6 Parpol, Andika-Nanang Daftar ke KPU Kabupaten Serang
1438 dibaca
Kampanye Damai Cawalkot Serang Banyak Anak Kecil Dilibatkan

PENDIDIKAN

1315 dibaca
Warga Malingping Selatan Gotong Royong Rehab MI
Top