lBC, Serang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang terus meningkatkan kinerjanya di tengah adanya kebijakan efisiensi anggaran yang dikeluarkan pemerintah pusat. Sejumlah program kegiatan terkena efisiensi namun BPBD berkomitmen untuk merealisaikan program-program prioritas yang menjadi indek kinerja utama (IKU).
BPBD Kabupaten Serang di bawah kepemimpinan Ajat Sudrajat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) dan Sekretarisnya Ade Ivan Munansyah telah melakukan pemilihan program-program kegiatan yang dilakukan efisiensi sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 terkait dengan efisiensi penggunaan APBD dan APBN.
“Untuk anggaran di BPBD setelah dilakukan efisiensi bersama TAPD (tim anggaran pemerintah daerah) kita akan melaksanakan kegiatan sesuai hasil efisiensi tersebut. Kegiatan-kegiatan yang telah kita rencanakan tetap berjalan tinggal kita sesuaikan dengan anggaran yang tersedia,” ujar Ade saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.
Ia menjelaskan, ada beberapa anggaran yang tetap dipertahankan di antaranya anggaran pemeliharaan kendaraan Pemdam Kebakaran (Damkar) dan anggaran untuk penanganan kebencanaan. “Yang namanya bencana dan kebakaran kita tidak tahu kapan terjadinya dan itu tidak mungkin tidak dilakukan penanganan, makanya anggarannya tidak diefisiensi,” katanya.
Selain itu, BPBD Kabupaten Serang juga mempertahankan anggaran untuk pengadaan seragam PDL baik untuk personel Damkar maupun untuk personel BPBD karena menjadi kebutuhan bagi mereka dalam melaksanakan tugasnya. “Kita sudah lama tidak ada pengadaan. Yang kita butuhkan juga baju dan sepatu tahan api tapi harganya mahal puluhan juta,” paparnya.
Ivan menuturkan, untuk mencapai standar pelayanan minimum (SPM) selain dari sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni juga harus ditunjang dengan peralatan yang baik sebagai pendukungnya. “Sekarang ini penanganan kebakaran pakaiannya seadanya saja tapi tetap sesuai SOP (standar operasional prosedur),” ungkapnya.
Terkait dengan peningkatan SDM sendiri, Ivan mengatakan, pada tahun 2025 ini lebih banya mengikutkan pegawai dan relawannya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan gratis melalui zoom meeting yang diadakan oleh intansi terkait yang mengeluarkan sertifikat pelatihan. Pasalnya, BPBD belum bisa mengadakal pelatihan sendiri.
“Kita belum bisa mengundang narasumber dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) atau BASARNAS karena kita tidak punya anggarannya. Personel kita ada 253, mereka harus diberdayakan dan harus ditingkatkan kapasitas serta dilengkapi peralatannya,” katanya.
Sedangkan terkait dengan respon time penanganan kebencanaan dan kebakaran, Ivan mengungkapkan saat ini jauh lebih cepat yakni 6,7 menit. “Yang perlu dipahami terkait respon tim itu dalam mengelola informasi hasil koordinasi dengan pihak terkait sebelum kita mengirim personel ke lapangan. Jadi bukan begitu ada bencana kita langsung ada di lokasi,” jelasnya.
Ia memastikan, seluruh pegawai dan personel mau tidak mau harus siap melayani masyarakat 24 jam, untuk itu evaluasi rutin dilakukan. “Setiap apel kita sampaikan Danru dan Danton harus selalu siap ketika dibutuhkan. Jangan sampai ketika ada bencana dan kebakaran kita sibuk mencari personel, makanya mita berlakukan sistem piket,” paparnya.
Sebagai bentuk ketegasan dalam menerapkan kedisiplinan, BPBD pada awal tahun 2025 ini memutus kontrak kerja enam orang personel karena jarang masuk kerja. “Kita sudah perjuangan honornya dan sudah kita usulkan agar bisa ikut tes PPPK. Kita sudah lakukan pembinaan tapi tetap tidak ada perubahan, maka dari hasil evaluasi maka kita berhentikan,” ujarnya.
Sementara itu, Bidang Damkar dari Januari hingga April 2025 ini sudah menangani 132 kasus non kebakaran di antaranya mengevakuasi ulang, melapas cincin, hingga mengevakuasi handphone yang tercebur ke selokan. “Ini murni laporan dari masyarakat yang masuk ke kita dan yang sudak kita tangani,” ujar Kepala Bidang Damkar BPBD Kabupaten Serang Boyatno.
Dalam menangani kasus non kebakaran tersebut pihaknya menggunakan alat seadanya dan tidak pernah menolak ketika ada masyarakat yang meminta bantuan. "Kasus non kebakaran terdiri dari evakuasi binatang sebanyak 41 kasus, evakuasi sarang tawon 66 kasus, pemotongan cincin gelang 13 kasus, dan mengevakuasi HP yang tercebur di seloka," katanya.
Boyatno mengungkapkan, pada bulan April ini terdapat lonjakan aduan dari masyarakat jika dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. "Kita paling banyak melakukan penanganan di bulan April ini, ada 50 kasus. Sedangkan untuk Maret lalu ada 34 kasus, Februari 18 kasus, dan Januari 30 kasus non kebakaran yang kita tangani," jelasnya.
Dalam melakukan penanganan kebakaran dan non kebakaran tersebut, Bidang Damkar selalu berkoordinasi dengan pihak terkait seperti denganDamkar dari daerah lain, BASARNA, dan kepolisian. “Untuk kasus kebakaran sendiri dari Januari hingga April ini sudah ada 13 kasus yang terdiri dari 10 kasus kebakaran rumah dan tiga kasus kebakaran industri,” ungkapnya.[Adv]