Oleh: Hafis Azhari
Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten
Pada tahun 1978, sekitar 913 anggota jemaat yang dipimpin Jim Jones di Amerika Selatan melakukan bunuh diri massal dengan meminum potasium sianida, 276 di antara mereka masih anak-anak. Pada 1993 sekitar 90 penganut sekte David Koresh membakar diri di sebuah lahan pertanian Texas, AS. Pada 1997 bunuh diri massal juga dilakukan 40 anggota jemaat Heaven’s Gate, disebabkan munculnya komet Hale Bopp di bagian utara San Diego, California. Mereka meyakini kedatangan komet besar itu adalah berkah yang akan membawa mereka ke tingkat lebih tinggi dari evolusi manusia.
Dalam masyarakat muslim, kita mengenal gerakan-gerakan sempalan, baik yang menamakan diri ISIS, Taliban, Kurdish, Millata Abraham atau Gafatar, yang cukup merepotkan bagi persatuan dan keutuhan negara bangsa. Mereka selalu mengatasnamakan “tentara-tentara Allah”, dan bersikeras menciptakan negara sendiri. Di antara mereka punya militansi dan kepatuhan mutlak kepada pemimpinnya. Kita mendengar pengakuan Rika Handayani, seorang dokter muda, membawa anak balitanya pergi meninggalkan suami untuk berhijrah demi keyakinan bersama jamaahnya. Konon, banyak pengikut ISIS yang sanggup meninggalkan keluarganya, bahkan tersiar kabar tentang beberapa anggota ISIS yang nekat membunuh orang tua yang dianggap merintangi jalan perjuangannya.
Ada pelantikan atau pembaiatan (syahadah) ketika seseorang masuk dalam jamaah atau sekte tertentu, baik yang bersifat radikal maupun non-radikal. Dia berjanji patuh menuruti segala ketentuan yang diberlakukan, memiliki sahabat seperjuangan yang dijanjikan akan membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi masa depannya. Pada titik tertentu, tidak sedikit di antara mereka yang mengkultuskan diri “kudus” dan “suci” (truth claim), hingga berkeyakinan bahwa kelompok atau aliran manapun yang di luar dirinya adalah kotor dan batil.
Di Jepang, ketika pengikut Shoko Asahara menganggap dirinya paling baik, serta-merta memandang semua orang di luar dirinya adalah zalim dan jahat. Mereka nekat membunuh siapa saja di stasiun bawah tanah Tokyo dengan gas beracun sarin. Nampak berbeda dengan pengikut sekte Kenish pimpinan Jim Jones, yang mengaku dirinya “juru selamat” kemudian menembaki orang-orang di jalanan, agar mereka yang mati dapat terselamatkan dari kejahatan zaman yang sudah diprediksi oleh mereka. Para pelaku penembakan meyakini bahwa orang-orang yang tewas di tangannya, pada tempat dan waktu tertentu, adalah para martir (syahid) yang terhindar dari segala malapetaka zaman yang dianggap sudah tak tertanggungkan lagi. Mereka adalah mujahidin yang pulang ke “rahmatullah” dengan selamat aman dan sentosa. Inilah solusi terakhir bagi mereka yang punya keyakinan bahwa manusia adalah “sang penentu” yang berhak menyelamatkan sesamanya, sakan-akan manusia harus nekat melakukan perbuatan yang besar guna menyelesaikan segala urusan yang membelit hidupnya.
Pada jamaah Salamullah pimpinan Lia Aminudin di Jakarta, penulis pernah mewawancarai beberapa pengikut yang keluar dari barisan mereka, khususnya setelah berkali-kali pemimpin mereka gagal memprediksi kedatangan hari kiamat yang sebenarnya mutlak menjadi hak prerogatif Allah Swt. Bahkan Nabi Muhammad, sang nabi akhir zaman sekalipun tidak diberitahu kapan persisnya hari kiamat kubro itu datang.
Dalam konteks ini, jika toh benar bahwa gerakan Gafatar maupun teror Thamrin beberapa waktu lalu masih berkaitan dengan ISIS, ada kepentingan apa orang-orang Irak atau Suriah melakukan rekrutmen dan hendak mengobrak-abrik kesatuan RI? Kenapa begitu mudahnya orang-orang kita dibujuk agar membunuh saudaranya, seiman dan sebangsa, dengan cara-cara meledakkan tubuhnya sendiri? Lalu, apakah terorisme di negeri ini adalah penyakit utama bangsa kita, ataukah sekadar gejala di permukaan saja, dengan Densus 88 dan Tim Gegana ibarat remason dan balsam untuk pemoles pegal dan linu.
Tapi sumber penyakitnya ada di mana? Sejak kapan ia bercokol? Jangan-jangan rasa sakit itu memiliki akar yang ada dalam tubuh, hingga tanpa disadari kadang-kadang kumat dan kambuh lagi. Dan kita hanya sibuk mengobati kulit-kulit luarnya tanpa pernah kepikiran untuk menelusuri akar masalah yang sesungguhnya.
Mari kita berpikir lebih mendalam, khususnya di wilayah Banten ini, apa yang menyebabkan anak-anak didik kita, begitu tumbuh dewasa, dengan mudahnya direkrut dan menjadi bagian dari jamaah mereka. Apa inti masalah yang berada di balik semuanya itu? Mengapa sekian ribu ustad, mubalig, para kiai dan tokoh agama dianggap kurang memberikan jawaban yang pas bagi pemenuhan jiwa dan ketentraman batin mereka? Bila kita bicara dalam konteks sastra, mengapa anak-anak muda menghindar dari dekapan orang tuanya kemudian mencari pelampiasan pada minuman keras, pergaulan bebas, hingga obat-obatan terlarang?
Jika sistem pemerintahan kita tidak jujur dan transparan, tidak menciptakan trust bagi proses kedewasaan dan pencerdasan rakyat, dengan segala agenda kepalsuan yang mengundang teka-teki yang tak terjawab. Sementara di sisi lain timbul kasus-kasus korupsi kelas kakap, menyusul jembatan ambrol yang berbulan-bulan tak dibenahi, sekolah dan jalan-jalan rusak, pelayanan publik yang buruk, ribuan pemuda direkrut untuk melakukan aksi yang tak dipahami motif dan misinya. Kemudian besoknya muncul bencana kelaparan, anak-anak kekurangan gizi di Lebak dan Pandeglang. Ya, bukankah semuanya itu akibat belaka dari gejala-gejala yang penyakitnya bersumber dari dalam tubuh para pemimpinnya sendiri?
Tentu saja solusinya tidak cukup dengan memoles gejala-gejala yang ada di permukaan dengan balsam atau remason, karena para pemuda kita sudah tahu dan paham tentang akar masalah yang sesungguhnya. Baru-baru ini kita mendengar lagi kongkalingkong dalam kasus KTP-el, menyusul para oknum yang tertangkap di kantor dinas, DPRD, terminal hingga ke pasar-pasar. Kasus-kasus semacam inilah yang membuat generasi muda Banten seakan kebingungan. Mereka tidak memiliki tokoh sandaran yang dijadikan “hero” lantas mencari-cari jalan sendiri, apa dan siapa yang pantas dijadikan pegangan untuk menjamin masadepan mereka.
Secara eksplisit saya mencoba menggambarkan realitas kehidupan mereka dalam novel Perasaan Orang Banten, misalnya pelarian anak-anak muda pada minuman bir atau pil koplo. Ada yang merasa nyaman hidup bersama pacarnya, ada yang menjadi pembobol kantor perusahaan milik keturunan Tionghoa. Bahkan ada yang nekat menjadi mesin pembunuh karena merasa kehilangan kembang desa yang menjadi pujaannya. Semua simtom yang terungkap dalam novel tersebut adalah masalah sosial kita bersama. Novel itu tidak menghakimi siapapun yang mesti dipersalahkan. Saya hanya memaparkan realitas yang ada di sekeliling kita, dalam konteks kebantenan dan keindonesiaan.
Memang tidak mudah bagi saya untuk mengguratkan pena, menyibak relung-relung terdalam tentang kehidupan masyarakat, seandainya saya tidak mampu mengambil jarak dari fenomena yang ada. Secara sosiologis saya harus betul-betul menceburkan diri dan berkubang di tengah mereka, kemudian mengambil jarak yang strategis untuk mendalami psikologi analitis guna mencari tahu hakikat kepribadian manusia. Pada akhirnya, melalui wacana ini saya ingin menyatakan, jika pemerintah baru Banten gagal menelusuri akar masalah yang sesungguhnya, serta-merta segala simtom akan bermunculan dan terus bermutasi dari waktu ke waktu. Anak-anak muda akan terus melarikan diri mencari pelampiasan yang dapat menjawab gugatan mereka. Boleh jadi teror-teror akan terus merebak, direkrut oleh mereka yang menamakan dirinya “tentara-tentara Allah”.
Namun sekali lagi, segala klaim kebenaran yang mengatasnamakan tuhan dan agama, pada hakikatnya adalah masalah sosial yang bersumber dari tabiat dan kelakuan kita sendiri, baik dari teladan pemimpin di tingkat rumah tangga hingga ke tingkat pemerintahan. Tindakan mereka yang anarkis dan radikal itu, tidak akan muncul jika saja kita mampu menunjukkan performa dan teladan yang mumpuni bagi pertumbuhan mental dan kepribadian anak-anak kita tercinta. (*)