Sabtu, 18 April 2026

Sastra dan Kecerdasan Emosional

Rabu, 15 Mar 2017 | 15:10 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Muckhlisin  

Tidak mudah memahami karya-karya Pramoedya Ananta Toer dalam konteks gaya bahasa anak-anak muda sekarang. Di samping banyak serapan dari bahasa Melayu, tidak kalah istilah-istilah Jawa berhamburan di sana-sini, karena memang Pramoedya tidak lepas dari tanah Jawa tempat kelahirannya (Blora) dengan beragam lika-liku kekuasaan keraton di dalamnya. Beda dengan tulisan esai-esainya yang terus mengikuti arus perubahan, serta evolusi perkembangan bahasa Indonesia hingga saat ini.

Cara bertutur Pramoedya memang beda dengan Gerson Poyk, yang terkenal dengan salah satu karyanya, “Matias Akankari”. Gaya bahasa dari sastrawan kelahiran Pulau Rote (Nusa Tenggara Timur) ini laiknya anak-anak muda masakini yang menggemari karya sastra kontemporer. Ketika bicara kemiskinan dan kemelaratan, dia mampu membahasakan dengan dialog-dialog yang unik, jenaka dan penuh banyolan. Tokoh-tokohnya meluncur begitu gesit dan fasih, meskipun terdiri dari-orang-orang melarat – seperti kebanyakan penulis kita – tapi dia mampu melihat dari perspektif yang berbeda ketimbang kebanyakan penulis yang terbenam dalam penderitaan. “Saya mendambakan adanya penulis Indonesia yang mampu bertutur laiknya Mark Twain atau Steinbeck. Mereka mampu menampilkan wajah-wajah marjinal dari kaum politisi, tapi sanggup menggambarkannya secara gagah dan jenaka,” kata A.S. Laksana dalam suatu pertemuan sastrawan.

Memang tidak mudah menggarap karya sastra, dengan kesanggupan melihat sudut pandang jenaka dan penuh banyolan, dari kehidupan orang-orang miskin dan melarat. Kebanyakan penulis justru membiarkan dirinya terhanyut dalam melodrama. Dalam hal ini Mark Twain sendiri mengakui, “Adalah pekerjaan langka dan unik, bila pengarang mampu menampilkan sisi jenaka dari kehidupan orang-orang miskin, tanpa mendakwahkan mereka sebagai penguras air mata.”

Itulah yang tergambar pada karya Gerson Poyk, baik yang berjudul Matias Akankari, Oleng-Kemoleng, atau Surat-surat Cinta Rajagukguk. Dalam “Matias Akankari” dia melukiskan suasana Jakarta dengan karakter manusia-manusia yang mirip kehidupan suku-suku Baduy Irian Jaya yang hidup di hutan belantara. Gerson menggugat ranah kehidupan modern Jakarta, tapi sanggup menampilkannya sebagai banyolan dan lelucon, bahkan sebagai ironi, bahwa apa yang dinamakan hidup modern sama primitifnya dengan karakter-karakter manusia pedalaman. Yang membedakan hanya pakaian orang-orang Irian Jaya yang berupa cawat dan koteka.

Di sisi lain, memang sulit bagi generasi muda untuk melihat sisi yang jenaka pada karya-karya Pramoedya. Tapi sebagai sastrawan besar dia berhasil menggambarkan sisi ketidakadilan penguasa dengan kekayaan metafora dan harmoni peristiwa-peristiwa tragis yang dituturkan secara integral dan menyeluruh. Jadi memang berbeda, antara karya sastra yang menggugat ketidakadilan, dengan situasi masyarakat yang nasib hidupnya miskin dan melarat akibat dari pilihan-pilihan untuk berpijak pada mitologi dan mindset lama yang sulit ditembus perubahan. Tipikal masyarakat ini, ketika diajak berubah untuk maju, tetap saja ngotot, merasa adem-tentrem dengan kondisi hidupnya yang mirip dengan manusia-manusia suku purba pedalaman hutan belantara. Hanya ada sedikit perbedaan, yakni sudah ada jalan-jalan aspal, supermarket dan mal-mal, hingga Starbucks, McDonnald’s, CFC dan seterusnya.

Dalam karya-karya Toto ST Radik, secara lugas dijelaskan tentang panggung politik Banten di suatu perkotaan, yang digambarkannya sebagai “panggung sandiwara”. Ya, okelah kalau begitu. Jika dunia politik Banten diibaratkan panggung sandiwara, mari kita bertanggungjawab untuk menampilkan panggung yang terbaik, agar menjadi contoh dan teladan bagi khalayak.

Tapi masalahnya, seniman itu beragam karakter. Ada yang berpendapat bahwa kita harus jujur menyatakan apa adanya tentang hakikat kebantenan. Tentang penderitaan rakyat, tentang marjinalitas, kemiskinan, kebodohan, yang secara struktural diakibatkan ulah kaum politisi. Tapi mengapa para politisi yang tampil sebagai penguasa juga tidak kalah marjinalnya dengan rakyat jelata, baik secara mental maupun secara spiritual dan kedewasaan. Inilah problem kita semua, di mana para penulis sah-sah saja mengangkat sudut-sudut Banten dari perspektif yang berbeda, sebagai khazanah kekayaan literasi yang harus saling bersinergi dan bergandeng-tangan. Tak ada untungnya bila saling menyudutkan dan menyalahkan, tak ada manfaatnya jika ada penulis yang ngotot memprovokasi para penulis muda agar berkubang dalam penderitaan dan kesengsaraan. Karena nasib mereka, baik keberuntungan maupun kesengsaraan, bukan kita yang menentukan, tetapi ada  Tuhan Yang Maha Mengatur segalanya.

Saat ini, dalam gegap-gempita kabar-kabar burung melalui hoax, caci-maki, teror, dan hal-hal yang begitu menekan perasaan dan pikiran kita, saya bersyukur masih ada setitik cahaya di lorong-lorong gelap. Masih ada penulis-penulis yang dengan tulus-ikhlas mau menghibur kita semua, dan memilih tidak mau menceburkan diri untuk mengajak rakyat Banten dalam penderitaan dan kesengsaraan.

Mungkin saja ada anggapan yang menyatakan hal tersebut adalah fasik dan munafik. Tapi bukankah kita telah sepakat bahwa hidup ini adalah panggung sandiwara. Lantas, kita sebagai individu maupun masyarakat, untuk apa membenamkan diri dalam pikiran dan perasaan yang membuat kita semakin kalut dan kalang-kabut. Bukankah semuanya itu adalah faktor internal dari bikin-bikinan otak dan kepala kita sendiri?

Secara pribadi, saya membayangkan masadepan Banten yang semakin memunculkan penulis-penulis generasi baru yang berjiwa merdeka, independen, tidak mau terkontaminasi oleh gaya penulisan yang miskin imajinasi dan kering akan filosofi kehidupan. Memang tidak mudah untuk berdiri di kaki sendiri, karena corak kesusastraan kita kadung diselubungi genre sastra eksistensialisme setelah runtuhnya puing-puing perang dunia kedua dan perang dingin.

Tapi bagaimanapun, masyarakat berperadaban tinggi mesti merindukan cerita-cerita yang bermutu, baik cerita kehidupan sehari-hari di mana kita yang menjadi pelakunya, maupun cerita yang kita baca melalui buku-buku sastra asing. Cerita yang baik tentu akan membangun kedewasaan rakyat Banten. Cerita yang memotivasi dan memberi harapan akan masadepan, tentu saja dapat membuka cakrawala kita semua, hingga memberi kebahagiaan dan kekuatan tauhid.

Cerita karangan yang baik, juga akan membangkitkan efek psikologis, kepekaan psiko-histori, hingga memunculkan sikap-sikap empati dan peduli pada nilai-nilai kemanusiaan. Kita semua tahu, bahwa pendidikan anak-anak muda Banten, tidak cukup di ranah kecerdasan intelektual semata. Tapi juga harus dibangun kecerdasan emosional di mana generasi muda harus terpenuhi aspek psikologisnya dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam kaitan ini, saya terkenang buku “In the Minds of Others” (Keith Oatley) yang menjelaskan bahwa cerita karangan yang baik, serta mendalami kejadian-kejadian yang ditulis secara imajinatif, akan membangkitkan gelora kesadaran masyarakat pada kecerdasan emosionalnya. Hingga menumbuhkan rasa empati yang tinggi, serta mampu melihat bagaimana orang lain punya perspektif yang beragam.

Dalam pendidikan sastra di negeri-negeri maju, aspek kecerdasan emosional ini sangat vital. Anak-anak didik tidak hanya dicekoki pelajaran tentang tata bahasa dan teori kesusastraan, juga bukan hanya pandangan analitis tentang jalan cerita dari suatu karangan sastra. Tetapi mereka dilatih unsur interaksinya dengan semesta dan universalitas, artinya mereka dipancing respons emosionalnya, dari sebuah cerita yang dibacakan, atau dari kisah-kisah imajinatif yang mereka baca sendiri.

Kita tidak menginginkan masadepan Banten terus berkutat dengan cara pandang lama. Hingga ketika pola pendidikan mereka semakin baik, dan terus memperbaiki diri, selayaknya kita merasa risau dan khawatir, jangan-jangan kita akan semakin tertinggal jauh di belakang. Sampai saat ini, lembaga-lembaga pendidikan kita, bahkan belum sanggup membangkitkan daya kritis masyarakat agar mereka menjadi generasi-generasi baru yang gemar membaca. (*)

Penulis Alumnus Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak.

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Sastra dan Kecerdasan Emosional

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1222 dibaca
Andika Sebut Pembentukan Kualitas SDM yang Baik dari Keluarga
1138 dibaca
Soal Kisruh BST Kemensos, Ini Tanggapan Bupati Serang

HUKUM & KRIMINAL

1788 dibaca
Jambret Seorang Ibu, Dua Warga Serang Diringkus Polisi
1863 dibaca
Satgas Mafia Tanah Polda Banten Dalami Kasus Lahan Milik Pemkab Tangerang

POLITIK

2092 dibaca
Pilkades Serentak 2017, Ini Pesan Kapolres Serang
1618 dibaca
Ini Plus Minus Pasangan Petahana Versi Warga Lebak

PENDIDIKAN

2097 dibaca
Angga, Penjaga Toilet Rindu Bisa Sekolah Kembali
Top