Sabtu, 18 April 2026

Pemimpin Banten yang Bersahaja

(foto ilustrasi)
Senin, 15 Mei 2017 | 03:56 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra

Penulis pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

“Biarpun rakyat Banten melangkah di lorong gelap, namun bila para pemimpinnya ikhlas memberi mereka sedikit sinar, niscaya mereka akan sanggup menemukan jalannya sendiri.”

Pada hakikatnya ibadah dalam pengertian syariat, baik solat, puasa atau haji, harus selaras dengan aktivitas untuk “bermunajat kepada Allah”, sedangkan tempat munajat itu adalah hati (qolbu). Jika hati manusia baik maka baiklah seluruh amal perbuatannya, apabila hatinya kotor dan rusak maka rusaklah seluruh anggota badan manusia (amal ibadah kita).

Fatwa Syekh Abdul Qadir Jailani memiliki otoritas penting, karena beliau memiliki derajat kemuliaan yang sangat tinggi di kalangan para ulama, bahkan dapat dikategorikan sebagai gurunya para sufi dan filosof muslim. Beliau menjelaskan secara rinci, apabila solat qolbu menjadi rusak, maka rusaklah ibadah-ibadah jasmaninya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: “Tidak berarti solat seorang hamba, melainkan dengan hati yang hadir di hadapan Allah.” Hadits ini menunjukkan bahwa hati (qolbu) adalah pokok utama. Ketika orang bermunajat kepada Tuhannya, tempat munajat itu tak lain adalah hati (qolbu). Karena yang selain hati itu adalah jasad yang hanya selaku pengikutnya. Sedangkan bila segumpal daging (hati) itu rusak maka rusak pulalah seluruh jasadnya.

Solat qolbu identik dengan dzikrullah sepanjang hayat. Jamaahnya adalah perkumpulan kekuatan batin untuk terus menerus mengingat asma Allah dan mentauhidkan-Nya dengan lisan batin. Imamnya adalah perasaan rindu dalam spirit qolbu (fu’ad). Dan qolbu ini tidak mati dan tidak pernah tidur. Ia sibuk dalam tidur dan jaga dengan kehidupan qolbu, tanpa suara, tanpa berdiri dan duduk, apalagi sampai berzikir dengan membentak-bentak Tuhan segala. Itulah yang disebut oleh Allah Swt.: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan…” (Al-Fatihah: 5)

Menurut Syekh Abdul Qadir, bila solat syariat dan solat qolbu telah berpadu, lahir dan batin, maka sempurnalah solatnya. Sang hamba menjadi seorang ‘abid secara dzahir, serta arif dan bijaksana secara batin. Jika solat qolbu (thariqah) tidak mengenai sasaran, maka tidak sempurnalah solatnya, dan pahalanya tidak sampai pada derajat taqarrub kepada Allah Swt.

Beberapa waktu lalu saya menerima laporan dari orang-orang yang mengikuti tahlilan di suatu perumahan di Kampung Jerang Hilir, Cilegon. Para jamaahnya mengaku menerima amplop dan berkat seperti biasa. Namun beberapa organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup mengabarkan di harian-harian Banten mengenai permainan politis dari pihak perumahan untuk membungkam masyarakat agar tidak bicara mengenai ketidakadilan dan kesewenangan yang diselenggarakan proyek perumahan selama beberapa tahun ini. 

Hal semacam inilah yang menunjukkan bahwa solat qolbu yang baik, tak mungkin dilakukan oleh hati dan jiwa yang bertentangan dengan aturan dan kehendak Allah Swt. Tak mungkin hidup dalam diri manusia dua hati yang saling berlawanan. Jiwa manusia akan menderita jika selalu mengalami pertentangan batin hingga ia tak mampu mengidentifikasi dirinya. Jika ia  tak ada kemauan untuk muhasabah dan introspeksi diri, maka siap-siaplah akan dihantam oleh bencana, dihinakan dan dinistakan oleh ular-ular dan kalajengking musibah dalam hidupnya. Betapa pedihnya rasa cobaan itu, apalagi jika manusia terlena dan terpedaya.Karena itu bagi mereka yang duduk di kursi jabatan, jangan berbangga diri dengan apa yang kalian miliki saat ini. Karena suatu saat apa yang ada di tangan kalian pasti akan sirna. Berhati-hatilah dengan peringatan dalam firman Allah berikut ini:“Sehingga ketika mereka bergembira atas apa yang mereka dapatkan, tiba-tiba Kami mengambil mereka seketika…”

Meraih anugerah keuntungan dari Allah harus ditempuh dengan kesabaran. Tak ada kemuliaan hidup yang diraih dengan instan, sikut kanan-kiri, apalagi sampai menjegal pesaing dan lawan-lawan politiknya. Kesibukan saling mengunci antar partai dan kepentingan politik bukan saja merugikan pihak lain, tapi justru akan merugikan diri sendiri. Karena itu Allah menguatkan berkali-kali tentang pentingnya sabar ini. Kefakiran dan rasa butuh kepada Allah tidak akan bertemu dengan kesabaran, kecuali bagi orang beriman dan bertauhid dengan baik. Bagi mereka yang mendapat cobaan, lalu mereka menjadi sabar, niscaya terlimpahi ilham untuk berbuat kebaikan beriringan dengan cobaan dan ujian yang dialaminya.

Kalau bukan karena kesabaran, Anda semua tidak akan pernah membaca tulisan ini sampai tuntas, bahkan tidak akan pernah sanggup untuk memetik hikmahnya. Kalau bukan hendak berselaras dengan Allah, bagaimana mungkin penulis mampu menguntai kata-kata puitis ini, kemudian dengan tekun dibaca oleh berbagai kalangan, baik jurnalis, politisi, pengusaha atau agamawan, bahkan oleh mereka yang hatinya dibutakan oleh riya, ujub, sum’ah, takabur, munafik, serta bercampur-baurnya syubhat dan keharaman?

Betapa banyak nikmat-nikmat Allah telah dikufuri, sementara terjadi kolusi untuk menciptakan kefasikan dan penyimpangan. Betapa banyak orang lumpuh yang terperangkap dalam kemusyrikan, membuka pintu-pintu pengabdian pada makhluk, hingga terkuncilah pintu hati antara dirinya dengan Allah. Hendaknya kita mengakui segala dosa dan kekurangan di hadapan Allah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni, memberikan manfaat dan anugerah, kecuali hanya Allah Swt. Juga tak ada yang membahayakan diri kita, kecuali bila kita menjauh dari-Nya.

Dengan demikian, persoalan zuhud yang sebenarnya bukanlah pada apa yang terlihat secara kasatmata, tetapi sikap zuhud dalam hati manusia. Awal mula yang dipakai oleh para wali dan anbiya adalah pakaian mewah dalam hatinya, lalu terefleksi kesederhanaan dalam lahiriyahnya. Ia memakai pakaian itu dalam rahasia batinnya, lalu dalam hatinya, kemudian untuk menutup nafsunya, lalu fisiknya. Ketika secara keseluruhan dirinya menggunakan pakaian sederhana, maka muncullah sentuhan-sentuhan tangan lembut dan pengasih, hingga ia pun mencopot baju hitamnya dan diganti dengan baju kegembiraan. Ia ganti penderitaan dengan kenikmatan, dendam dengan keceriaan, ia rubah ketakutan dengan rasa aman, rasa jauh menuju rasa dekat, rasa fakir menuju rasa cukup.

Kepada para politisi dan pemimpin Banten, raihlah kepemimpinan itu dengan tangan zuhud, bukan dengan tangan ambisi dan obsesi pribadi. Jangan sampai kalian makan dengan nikmat sementara masih banyak rakyat Banten yang bodoh, marjinal dan kelaparan. Perhatikan asal muasal makanan yang Anda santap sehingga tidak menyebabkan hatimu keras, jauh dari amanah, karena Anda sudah kehilangan rahmat. Jika kalian sudah mengkhianati amanah, maka sia-sialah segala usaha, jerih-payah, dan ambisi politik yang Anda raih dengan susah-payah ini. Tenaga hilang, harta habis, prestise lenyap dan kemuliaan menjadi sirna. Sungguh celaka bila amanah rakyat Banten diabaikan dan disia-siakan.

Jagalah mahkota kedudukanmu bersama Allah Yang Maha Menyaksikan amal perbuatan manusia. Waspadalah atas ancaman-Nya, karena siksa-Nya begitu dahsyat. Ketahuilah bahwa siksa itu bisa merebut rasa amanmu, merampas kemuliaan dan ketenaranmu, menghilangkan sehat badanmu, kesenangan dan kegembiraanmu. Ingatlah akan mati, dan risiko-risiko sesudah kematian, di mana kita semua dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan kita.

“Sampaikan kebenaran itu walau terasa pahit,” demikian sabda Rasulullah Saw. Karena itu taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jagalah nikmat-Nya dengan syukur. Terimalah perintah dan larangan-Nya dengan patuh dan taat. Terimalah kesukaran dari-Nya dengan kesabaranmu, dan terimalah dengan syukurmu atas kemudahan dan kelapangan hidupmu. Prilaku itulah yang dicontohkan oleh para pendahulu, para Nabi dan Rasul dan segenap orang-orang saleh.

Bangunlah, bangkitlah rakyat Banten! Sampai kapan kita tertidur lelap? Sampai kapan rakyat kita terlempar dalam kebodohan dan kemiskinan, lantaran ulah perbuatan yang seenaknya keluar masuk dalam kebatilan? Bergelimang dengan nafsu, hawa, dan kebiasan-kebiasaan buruk lainnya. Didiklah anak-anak kita dengan kejujuran, ketangkasan, kearifan, kelembutan hati, yang merupakan adab-adab Alquran dan Sunah Rasul.

Berhati-hatilah dalam menjalani hidup. Banyak ulama dan cerdik-pandai menyatakan bahwa zaman ini adalah zaman riya, pamer dan kemunafikan, di mana harta didapat dengan cara-cara yang tidak benar. Betapa banyak orang yang solat, puasa, zakat, haji, namun ditujukan kepada makhluk dan bukan kepada Sang Khalik. Mereka telah mati jiwanya, lantas menghidupkan syahwat dan hawa nafsu untuk dunia.

Marilah kita memasrahkan diri kita, bersimpuh di hadapan Ilahi Rabbi, bertafakkur melihat kedalaman diri kita. Dengan tafakkur ini agama akan hidup dan matilah setan-setan yang ada dalam diri kita. Karena itu dikatakan, tafakkur satu jam lebih baik dibanding bangun sepanjang malam. Sebagai umat Muhammad, kita semua sadar bahwa kitalah yang terakhir di dunia ini, tetapi yang pertama dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Jika kita benar maka tak ada umat lain yang lebih benar menandingi kita. Umat lain adalah rakyat, sedangkan kitalah yang menjadi pemuka dan pemimpinnya.

Tapi sepanjang kita lemah secara tauhid, sepanjang kita sibuk bersandar pada selain Allah, maka kita sebagai umat Muhammad takkan sanggup mempertanggungjawabkan kebenaran itu. Ya Allah, berilah kami rizki dan keberkahan hidup, agar senantiasa berada di sisi-Mu. Teguhkan kami agar selalu berpijak pada agama-Mu, amin ya rabbal alamin. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Pemimpin Banten yang Bersahaja

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1860 dibaca
Polda Tangkap Tujuh Pelaku Penyebar Isu PKI dan Ujaran Kebencian
840 dibaca
Sambut HUT Bhayangkara, Polres Serang Tanam Pohon Mangrove di Pantai Lontar

HUKUM & KRIMINAL

1065 dibaca
Dua Pengedar Obat Keras Warga Aceh Digerebeg Polres Serang Kota
702 dibaca
Pegawai Instalasi Listrik Nyambi Jualan Sabu

POLITIK

1640 dibaca
Persyaratan Lengkap, Iti-Ade Melenggang Mulus Ikut Pilkada Lebak 2018.
1005 dibaca
Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 31 Oktober 2021

PENDIDIKAN

5154 dibaca
BOSDA 2019, Dindikbud Banten Alokasikan Dana Rp480 Miliar
Top