Sabtu, 18 April 2026

Menyoal Rasisme di Banten

Selasa, 28 Feb 2017 | 22:51 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra  

Sulit untuk diprediksi ribuan pengamat dan tokoh politik dunia, pada akhirnya Donald Trump tampil selaku Presiden Amerika Serikat yang ke-45. Tentu saja pengaruhnya begitu luas, apalagi ketika Trump berupaya untuk memberlakukan proteksi berlebihan, hingga terkesan berseberangan dengan hukum globalisasi yang merupakan kenisayaan sejarah.

Bukankah era globalisasi ini membuat alur pertukaran informasi lebih terbuka? Bukankah era ini makin memudahkan semua pihak untuk bersatu dan bertoleransi di antara miliaran penduduk bumi ini? Lantas ada pemimpin negara yang mengajak berbeda, meskipun perbedaan itu belum identik dengan mengajak kepada kebencian.

“Kemenangan Trump telah membalikkan logika saya, bahwa Amerika yang disebut-sebut sebagai negara yang berperadaban maju, ternyata tidak seperti yang kita bayangkan,” kata seorang warga California yang penduduknya memang beragam.

Hampir semua pemilih Trump adalah laki-laki berkulit putih. Di samping para imigran yang ramai-ramai berdemo, juga warganegara Amerika keturunan Meksiko meneriakkan yel-yel bertuliskan “Trump Seorang Rasis”. Begitupun dengan teman-teman di Banten dalam menilai Trump, sepertinya berlebihan juga. Malahan ada seorang ustad yang terang-terangan menulis opini dengan mendukung Hillary Clinton. Padahal dia juga seorang Nasrani, dan secara syariat, terlebih dia seorang perempuan.

Menilai seseorang secara negatif sering kita sebut “su’udzon”, berprasangka buruk, inilah ciri-ciri utama seseorang bisa disebut rasis. Kadang-kadang sebagai warga Banten kita menolak disebut rasis. Tapi dalam kenyataan sehari-hari kadang kita menjuluki teman kita, “Jawa koek”, “Sunda pemalas”, “Padang dan Batak keras kepala” dan seterusnya. Kita menolak disebut rasis, tapi dalam kehidupan faktual kadang orang Sunda anti sama Jawa, sedangkan yang Jawa anti sama Padang atau Medan. Jangan-jangan kita semua adalah rasis. Termasuk saya yang merasa tidak rasis, tapi kadang terlontar juga ucapan, ketika saya kesal pada seorang teman, “Dasar Jawa koek!” Walaupun tidak otomatis menunjukkan sikap jahat, tapi bukankah omongan seperti itu adalah bukti bahwa kita semua adalah rasis.

Dari kalangan minoritas di Banten, kita juga kerap mendengar mereka mengucapkan sesuatu yang menyindir kalangan mayoritas. Misalnya yang berasal dari Bali, orang tuanya mencegah anaknya bergaul dengan kebanyakan orang Jawa dan Sunda. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang melarang anaknya menikah dengan suku bangsa lain. Bukankah hal seperti ini juga menunjukkan sikap seorang rasis?

Mungkin tingkatannya berbeda-beda. Ada yang berkoar-koar mengajak orang untuk ikut membenci. Ada yang sampai terjadi pertikaian antar suku, melukai atau membunuh. Ada juga yang menyimpan perasaan benci kepada suku lain, tapi ketika berhadapan dia bersikap baik dan santun. Bahkan yang merasa dirinya tidak rasis pun, kadang-kadang keluar juga umpatan yang tanpa disadarinya telah melakukan tindakan rasis.

Kalau semua orang rasis, lantas bagaimana ini? Yaa, gak gimana-gimana. Biarkan saja setiap manusia punya sifat rasis dalam dirinya, meskipun tentu kadarnya berbeda-beda. Yang penting jangan sampai bersikap rasis yang levelnya keterlaluan, misalnya menjegal perubahan, menghambat kemajuan dan pertumbuhan. Apalagi yang tingkatan rasisnya sampai melukai dan menyakiti orang lain.

Rasisme di Zaman Rasulullah

Perbedaan ras, warna kulit, suku dan bangsa, bahkan perbedaan bahasa, seringkali menyimpan bibit paling subur yang bisa merusak kerukunan masyarakat kita. Dalam suatu peristiwa yang dialami Bilal bin Rabah ketika Fathu Makkah, saat itu ia menaiki Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Seorang sahabat kemudian berbisik ke telinga temannya, “Apakah pantas budak hitam itu menaiki tempat yang suci?”

Sikap sentimen dan prasangka buruk itu kemudian ditepis oleh temannya, “Kalau Allah membencinya, tentu Dia sudah menggantikannya.”

Setelah peristiwa itu maka turunlah ayat-ayat dalam surah al-Hujurat yang menekankan bahwa semua manusia adalah bersaudara, hingga tidak layak suatu kaum merasa dirinya paling unggul dari kaum lainnya. Bahwa orang termulia dalam pandangan Allah bukan diukur dari sikap-sikap primordial semacam itu, melainkan dari kualitas ketakwaan seorang hamba.

Hal tersebut menunjukkan bahwa rasisme tidak hanya hidup di zaman setelah kekuasaan Hitler di Jerman (pasca 1940-an) dengan mengobarkan sikap intoleran terhadap orang-orang Yahudi dan kaum Gypsi. Bahkan ketika risalah Tauhid sudah dikumandangkan Rasulullah, masih saja ada sahabat Nabi yang memiliki sikap sentimen terhadap ras lain yang dianggap bukan ras Arab.

Sikap-sikap rasis pada sebagian sahabat itulah yang membuat Rasulullah menegaskan bahwa orang-orang keturunan Arab tidak berhak merasa derajatnya lebih tinggi daripada yang bukan Arab (al-a’jamiy). Pada kesempatan lain Rasul pun menyatakan bahwa, Allah tidak memandang bagaimana kalian secara fisik dan jasmani, tetapi Dia memandang bagaimana indahnya hati dan jiwa kalian.

Hanya Allah Yang Maha Suci dan layak dipuji, sedangkan puji-pujian kepada selain Allah hanyalah nisbi dan semu belaka. (*)

Penulis: Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Menyoal Rasisme di Banten

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

2721 dibaca
Penjelasan Ahli Sejarah Soal Maskot Pilkada Kota Serang 2018 
5122 dibaca
Bantah Tuduhan, Mantan Bupati Serang Ancam Polisikan Pendemo

HUKUM & KRIMINAL

1061 dibaca
Sempat Melawan, Dua Pengedar dan Kurir Sabu Diringkus
1329 dibaca
Dua Gadis ABG Digilir Tujuh Pemuda

POLITIK

1994 dibaca
Pengumuman Syarat Dukungan Bakal Pasangan Calon Perseorangan Pilkada Lebak
1342 dibaca
Target Menang di Tangsel, Golkar se-Tangerang Raya Konsolidasi

PENDIDIKAN

1190 dibaca
Hari Sumpah Pemuda, Pemkab Serang Kuliahkan 53 Mahasiswa di Untirta
Top