Oleh: M. Muckhlisin
Penulis Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak
SEORANG psikolog terkenal yang sudah menulis belasan buku, suatu hari diwawancarai perihal misteri kehidupan yang selama ini belum dipecahkan dan dicarikan solusinya. Dengan suara terbata-bata psikolog itu justru menjawab riskan, “Yang masih misteri dalam perjalanan hidup saya adalah, bagaimana cara mendidik anak laki-laki saya yang sedang mengalami depresi.”
Bicara tentang depresi dan polusi pikiran yang menjadi topik hangat akhir-akhir ini, kiranya tepat jika organisasi World Health Organization (WHO) memperingati tahun 2017 ini dengan tema sentral “Depresi, Ayo Bicara” (depression, let’s talk ). Memang sangat memprihatinkan, karena ternyata sejak tahun 2000 lalu Indonesia termasuk negara yang mendapat catatan merah oleh WHO dan Bank Dunia. Padahal masalah depresi ini sangat berat bagi proses kemajuan bangsa, di samping produktivitas masyarakat menurun, juga kualitas SDM bisa merosot tajam.
Seperti halnya penyakit jantung dan darah tinggi, depresi akan menjadi beban berat bagi kesehatan dunia. Pesatnya dunia informasi dan kemajuan teknologi yang mengakibatkan masyarakat limbung tanpa keseimbangan, menjadi penyebab utama yang menjadi perbincangan para psikolog dan psikiater. Konon angka prevalensi depresi yang diakibatkan polusi pikiran ini bisa mencapai 20 persen dari populasi penduduk dunia. Suatu angka yang fantastik, hingga WHO menganggapnya sangat krusial dan harus segera ditangani bersama.
Dampak dari penyakit polusi pikiran ini sungguh luar biasa. Misalnya pada Maret 2015 lalu, jatuhnya pesawat Airbus di pegunungan Alpen yang mengorbankan 144 penumpang, diakui bahwa co-pilotnya sengaja menabrakkan pesawat tersebut karena rasa depresi yang dialaminya. Ketika pilotnya sedang ke toilet, co-pilot mengunci kabin pesawat kemudian menabrakkan pesawat antara penerbangan Jerman-Swiss. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya catatan medis bahwa beberapa tahun sebelumnya co-pilot itu menderita stres berat, bahkan beberapa kali melakukan percobaan bunuh-diri.
Itu salah satu contoh ekstrim yang tentunya membahayakan semua pihak, belum lagi transportasi publik lainnya seperti kapal laut, kereta api, kendaraan angkutan umum yang belakangan para penumpang banyak mengeluh karena ugal-ugalan atau ceroboh dalam mengendaraianya.
Ketidakpastian Masa Depan
Perasaan kehilangan sesuatu atau pupusnya harapan akan masadepan, adalah penyebab yang tidak kalah penting dari munculnya keresahan serta limbungnya keseimbangan di mana-mana. Menurut penelitian para psikolog, kaum wanita menempati potensi 2-3 kali menderita depresi ketimbang kaum pria. Hal ini disebabkan fluktuasi kadar hormonal wanita yang naik-turun, ditambah lagi dengan posisi wanita secara sosial-budaya yang kurang diuntungkan di Indonesia.
Tapi ironisnya, angka kematian akibat bunuh-diri justru lebih banyak dialami oleh kaum pria ketimbang wanita. Dalam kaitan ini, Nalini Muhdi, seorang ahli psikiater dari Universitas Airlangga menyampaikan tesis dari hasil penelitiannya bahwa, kaum laki-laki pada umumnya tidak suka mengekspresikan keluhan perasaan emosionalnya jika dibandingkan dengan wanita. “Menunjukkan perasaan emosional secara terus terang, dianggap kurang ideal bagi seorang laki-laki, seakan menyalahi stereotipe laki-laki yang jantan. Laki-laki cenderung menyangkal dan kurang suka meminta bantuan profesional. Oleh sebab itu, ketika perasaan depresi sudah tak tertanggungkan lagi, mereka membiarkan kualitas hidupnya menurun bahkan terjatuh. Padahal, bukankah laki-laki juga manusia yang tidak hanya terdiri atas rasio yang bersifat kognitif, tapi juga prilaku yang berperasaan, dan karenanya mereka pun makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan sesamanya.”
Dampak Depresi Global
Salah satu film menarik yang menggambarkan depresi global ibarat virus-virus yang menyerang pemikiran manusia adalah After Earth (sutradara M. Night Shyamalan). Dalam film tersebut mengandung pesan bahwa, depresi yang menyebabkan meningkatnya angka kematian akibat bunuh-diri, harus segera dikendalikan oleh para pembuat kebijakan publik agar masyarakat dapat hidup dengan tentram dan nyaman. Karena sesungguhnya, rasa depresi sangat berhubungan dengan masalah kesehatan mental yang tak terpisahkan dari kesehatan fisik dan sosial juga. Para psikolog saat ini menggagas pentingnya diadakan kampanye kesehatan holistik secara serentak – termasuk melalui media massa – serta perlunya diadakan praktik kesehatan berbasis komunitas.
Akibat serangan yang gencar melalui teknologi informatika, polusi pikiran dapat menyerang otak pikiran siapa saja tanpa pandang bulu. Itulah yang membuat banyak orang terkacaukan secara mental dan emosional, karena dapat merasuk ke alam bawah sadar, serta dapat menimbulkan ketegangan dan kepanikan di mana-mana. Ironisnya, polusi pikiran ini dapat pula merasuk ke kalangan ustad dan tokoh-tokoh agama yang mestinya berfungsi selaku benteng iman dan religiusitas. Tapi tak ayal, di antara mereka banyak yang terhanyut ke dalam iklim perubahan yang membuat mereka sibuk membesarkan “benderanya” sendiri, bukan menjadi penengah dan penyejuk bagi kemaslahatan umat.
Lantas, apa fungsi dari segala perangkat zikir dan wirid yang dengan lantang dikumandangkan, jika hanya sibuk merekrut para jamaah bagi kepentingan popularitasnya. Bukankah tidak sedikit para jamaah tabligh yang seakan mengkultuskan diri bahwa hanya golongannya saja yang layak menjadi ahli sorga. Alur pemikiran ini mengandung konsekuensi logis dan politis, bahwa jamaah dan komunitas lainnya sekan-akan tak lebih dari para penghuni neraka.
Ketika psikososial ini menggejala juga di kalangan tokoh agama, lantas siapa yang akan menjadi penengah bagi pentingnya kesejukan dan ketentraman umat. Toleransi dan kohesi sosial yang kian merenggang, dapat meledakkan amuk massa, hingga masyarakat merindukan di manakah bangsa yang dikenal ramah ramah, andap asor, dan gimah ripah loh jinawi itu?
Siraman Rohani
Masih banyak indikator ketidakberesan mengenai kondisi kesehatan mental di tengah masyarakat Banten. Kita tidak menginginkan prediksi para psikolog menjadi kenyataan, bahwa depresi sosial ini dipastikan menjadi bencana nasional dalam beberapa tahun mendatang. Tapi prediksi yang dibuat psikolog maupun sastrawan, bukanlah semata-mata omong kosong yang mengada-ada, dan bukan pula bersifat pamrih dan politis guna merekrut dan membesarkan bendera jamaahnya. Mereka menyampaikannya dari hasil analisis dan pengamatan yang tekun, ulet dan teliti. Bahkan di antara mereka meyakini, di situlah kualitas ibadah dan keikhlasan seseorang untuk berbuat bagi kepentingan dan kemaslahatan umat.
Saat ini, ketika tabligh dan nasihat-nasihat agama telah dipahami masyarakat sebagai “proyek” yang menggiurkan, tidak ada salahnya bila sebagian masyarakat menilai opini-opini publik sebagai dakwah yang menyejukkan dan mencerahkan kalbu. Hal tersebut tentu saja jika tabligh itu disampaikan dengan penuh retorika dan sarat muatan politis, hingga sulit diharapkan masyarakat untuk sampai menembus pintu langit. (*)