Sabtu, 18 April 2026

Membangun Banten dengan Tulisan     

Senin, 20 Feb 2017 | 14:45 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Fauziyah Nurul

Penulis Alumnus Ponpes Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang.

DALAM suatu acara pertemuan sastra di Yogyakarta, YB Mangunwijaya pernah didesak oleh seorang penulis muda agar menjelaskan proses kreatifnya dalam menulis esai-esai sastra. Seumumnya para penulis, Romo Mangun (panggilan akrab YB Mangunwijaya) mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang taktis dan cepat berpikir. Juga bukan orang yang fasih bicara menyampaikan apa-apa yang tersirat dalam pikirannya. “Saya bukanlah orang yang punya banyak konsep di pikiran tentang teori menulis sastra ataupun esai. Saya hanya mencoba untuk menulis yang baik,” paparnya.

Bagi seorang penulis yang baik, Anda perlu tahu, urusannya bukanlah bagaimana suatu karya itu dimuat atau tidak. Apabila dalam salah satu media tulisan itu belum termuat, sangat mudah baginya untuk mengirimkan ke media lain yang siap memuatnya, baik di harian lokal maupun nasional. Tapi yang menjadi problem, bagaimana sang penulis mampu melahirkan kembali tulisan-tulisan yang bagus. Lebih jauh lagi, bagaimana dia mengatur dan mengelola waktu untuk mencari momentum yang pas guna menghasilkan karya yang baik.

Perjalanan ini seperti mendaki puncak gunung yang melelahkan tetapi kita bersikeras untuk sampai ke atasnya. Seperti panggilan hidup di mana kita menolak untuk berhenti, bahkan pantang untuk menoleh ke bawah. Kemudian ketika sampai di puncak gunung pun, senantiasa kita mendaki gunung-gunung lain dengan puncaknya yang lebih tinggi lagi.

Seringkali para penulis muda mendesak kita dalam forum training literasi, agar kiranya mengungkap secara lugas proses kreatif seorang penulis hingga mampu melahirkan karya-karya terbaiknya. Jawabannya memang tidaklah mudah, karena Anda semua tau, menciptakan kebiasaan baru bukanlah perkara yang ringan dan sebentar. Begitupun dalam mengubah kebiasaan lama, bukanlah seperti membalikkan telapak tangan, bukan pula seperti ulat yang berkembang menjadi kepompong, kemudian terus bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.

Karena itu mereka yang terbiasa menulis buruk, emosional dan tidak logis, akan sulit jika diminta untuk menulis yang bagus dan rasional. Seperti ada rumus-rumus yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Dan rumus itu hanya mungkin bersatu dengan pribadi-pribadi yang merdeka, berjiwa independen, bagaikan risalah kenabian yang hanya diberikan kepada orang yang layak menerima panggilan (nubuwat).

Dengan ini menjadi satu dan sehaluan, jika Anda terbiasa membaca wacana ataupun sastra yang bagus, maka selera, cita rasa keilmuwan Anda hanya akan senyawa dengan kualitas tulisan yang bagus. Jika kualitas keilmuwan sudah meningkat, maka Anda akan tidak betah membaca tulisan atau melihat film dengan selera rendah dan pasaran belaka. Penonton film yang membiasakan diri dengan tontonan buruk akan sulit mencerna film-film yang berkualitas bagus. Anda tidak memperoleh hasil apapun, karena Anda terbiasa berkecimpung dalam level yang remeh-temeh dan biasa-biasa saja.

Hal ini serupa dengan anak kecil yang baru terbiasa melafalkan ayat-ayat Alquran (mengaji). Jadi belum mencapai fase “mengkaji” atau mentadabburi Alquran, karena fase ini sudah mencapai kegairahan untuk menimba ilmu, menganalisis, hingga mendalami hal-hal yang bersifat filosofis dalam kaitannya dengan amal kehidupan manusia dan alam semesta. Kita sering mendengar ucapan-ucapan bijak dari filosof, sastrawan, jurnalis atau ulama yang mumpuni (bukan ahlul-kitab yang berkonotasi negatif dalam Alquran). Mereka terbiasa bertindak dan berprilaku, meskipun tanpa mengucap dalil-dalil yang berhamburan dari mulutnya, tapi ucapannya atau tulisannya bernuansa Qurani, bahkan amal perbuatannya sangat bernuansa Islami.

Tidak jarang penguasa bertindak-tanduk bukan seperti pemimpin bagi kepentingan rakyatnya. Inilah yang sering disebut para penulis sebagai “mengejar fatamorgana”. Dengan kekuasaannya dia tak pernah mencapai fase kedewasaan dan kemerdekaan jiwa. Sedangkan yang menjadi tujuan utamanya dalam meraih tahta tertinggi tak lain adalah upaya untuk mencapai kebahagiaan hidup.

Mengapa prestasi dapat ditempuh, kesuksesan dapat dicapai, tetapi kedamaian dan kebahagiaan hidup tak kunjung diraihnya? Inilah yang sering diwanti-wanti oleh K.H. Rifa’i Arief (perintis pesantren Daar el-Qolam) bahwa, “Sangat mungkin kebahagiaan itu justru dicapai oleh seorang petani yang membawa karung goni dengan sepedanya yang butut, ketimbang pejabat tinggi yang bersedan mewah, jika mendapatkannya secara tidak halal.”

Karena itu jangan pesimis bagi masyarakat Banten, jika Anda berpenghasilan rendah, dengan gaya hidup yang sederhana. Secara pribadi, sudah cukup banyak saya berurusan dengan orang yang berpenghasilan puluhan hingga ratusan juta per-bulan. Bahkan tidak sedikit yang meningkat jabatan dan kekuasaannya, tapi sepanjang hari tak lepas dirundung rasa duka dan nestapa melulu. Tidak sedikit yang mengejar kedudukan tinggi, tapi ketika sampai di atas justru disibukkan dengan mengeluh dan mengeluh setiap hari. Kepengen turun sudah kadung di atas. Ketika di atas semakin direpotkan oleh urusan yang membelit hidupnya. Sementara urusan yang menyelimuti keluarga dan rumah-tangganya belum kadung dituntaskan.

Agama apapun melarang kita untuk terpukau dan terpesona pada yang sifatnya kasatmata belaka. Bagi yang tekun mengabdi sebagai guru, atau berprofesi sebagai penulis dan wartawan, tak perlu Anda tergiur dengan tukang parkir, penjaga pom bensin, atau petugas teller bank, yang sibuk menghitung-hitung uang. Bagaikan manajer dan direktur perusahaan yang sibuk dikejar-kejar omset dan kualitas produk, sementara SDM karyawan tak kunjung meningkat.

Dalam perjalanan hidup saya, tidak jarang menemukan orang-orang yang justru merasa kecewa dan tertekan, karena impian yang didambakannya rupanya tak sesuai dengan harapannya semula. Di tingkat perusahaan, adakalanya mereka tergopoh-gopoh mengejar target yang sesuai dengan tuntutan perubahan. Pendapatan perusahaan tak kunjung meningkat, sementara biaya dan kebutuhan terus bertambah. Akibatnya setiap tahun, berapa banyak  perusahaan di Banten yang hanya sibuk melakukan pemangkasan biaya, namun tidak memiliki kompetensi bagaimana caranya untuk menggenjot pemasukan dan meningkatkan kualitas SDM.

Begitupun kalangan politisi dan penguasa. Karena impiannya terlalu tinggi dan muluk tadi, pada akhirnya mereka memilih untuk berpikir dalam pola lama, di tengah tuntutan perubahan yang mestinya mereka jalankan. Mereka mengkhianati para penulis yang merupakan mediator sebagai penyambung suara perubahan. Mereka kembali pada mindset lama untuk mendiskriditkan dunia sastra dan jurnalistik.

Mari kita bangkit untuk tidak lagi terkungkung oleh cara berpikir lama, keberhasilan masa lalu, hingga cenderung bersikap apatis pada tuntutan perubahan global. Senantiasa kita memandang perubahan Banten sebagai proses yang terus bergerak, dan harus aktif digerakkan. Pemimpin Banten paling bertanggungjawab pada geraknya arus perubahan, peningkatan kualitas keilmuwan dan cita-rasa kebantenan. Bukan hanya sebagai obyek melainkan harus tampil secara revolusioner menjadi subyek bagi pergerakan perubahan Banten. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Membangun Banten dengan Tulisan     

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1372 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Tiga Pelaku Curanmor, Dua Ditembak
1525 dibaca
Tinjau Pos Pam, Tatu Semangati Polisi dalam Melayani Pemudik

HUKUM & KRIMINAL

1234 dibaca
Sedang Tidur, Pengedar Sabu Ditangkap Dirumahnya
1860 dibaca
Bejat, Kakek Ini Cabuli Belasan Anak Dibawah Umur

POLITIK

452 dibaca
Airin Gagas Pemerataan Pembangunan Infrastruktur dan Wajah Baru Banten
402 dibaca
Golkar Minta Penertiban Alat Peraga Kampanye Jangan Tebang Pilih

PENDIDIKAN

1651 dibaca
Bupati Serang Berikan Beasiswa Khusus Siswa Berprestasi
Top