Sabtu, 18 April 2026

Ketika Dukun Kehilangan Pasar 

(foto ilustrasi)
Senin, 19 Jun 2017 | 21:38 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Alawi Al-Bantan

Penulis Mahasiswa Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro, Rangkasbitung, Lebak

Kita kenal istilah disruption yang apabila diterjemahkan mengandung arti pergeseran, persaingan, atau ketersingkiran. Hal ini disebabkan banyak faktor yang menimbulkan suatu usaha mengalami dsirupsi, terutama karena faktor kemajuan teknologi. Kenapa pabrik mesin ketik, pabrik es batu hingga pabrik pembuatan mesin fax mengalami kebangkrutan? Hal itu karena teknologi baru telah muncul, hingga mereka terpaksa gulung tikar, bersama dengan ribuan karyawannya harus mencari mata pencaharian baru.

Faktor lainnya yang menimbulkan disrupsi adalah, munculnya gelombang kesadaran dan kecerdasan masyarakat akan pentingnya hal-hal yang bersifat rasional daripada percaya pada mitos-mitos (mindset lama). Dengan demikian, kita bisa paham mengapa sebagian dukun protes pada wacana dan opini di harian-harian umum Banten. Karena mereka menolak hadirnya hukum alam (sunatullah) yang merupakan keniscayaan bagi munculnya peradaban baru yang dipelopori manusia-manusia pencari ilmu.

Beda dengan kalangan dukun atau orang pintar yang merasa ilmunya sudah final, karenanya mereka malas mencari ilmu (bertafakur). Bahkan konon ada seorang dukun kampung yang mencari-cari penulis opini yang menyinggung perasaan mereka, namun ketika kesulitan mencari penulisnya tiba-tiba amarahnya kian menjadi-jadi. Barangkali sang dukun perlu mencari mitra kerja yang mampu membuka Google Earth hingga bisa memantau kediaman seseorang hanya dalam jarak empat meter di atas permukaan bumi.

Tabiat seorang dukun biasanya senang dikunjungi untuk memberi pertolongan bagi para tamu. Namun tentu saja disertai kepamrihan untuk menuntut balas jasa dari pihak yang ditolongnya. Dia bisa memberi amal-amalan, tapi tidak mampu memberikan jaminan pada kepentingan ilmu dan kecerdasan. Dengan izin Tuhan, dia bisa memberi obat bagi yang sakit, memberi harta bagi yang fakir, hingga memberi tahta kedudukan bagi yang berambisi kepadanya. Tapi semuanya itu hanyalah instan dan fatamorgana belaka. Dan kita memahami sifat fatamorgana yang seakan-akan air di tengah padang pasir, sangar menggiurkan bagi yang haus dan dahaga. Tapi faktanya hanyalah bayang-bayang belaka dari pantulan panas dan teriknya sinar matahari.

Sangat mudah bagi Allah untuk memberikan apa-apa yang dikehendaki oleh hamba-hamba-Nya. Dalam konteks saat ini, berapa banyak penguasa-penguasa zalim seperti Firaun, diberi kesempatan untuk berkuasa selama puluhan tahun. Karena memang waktu puluhan tahun hanyalah sesaat, tak berarti di mata Tuhan. Juga harta kekayaan dengan segala asesoris berlapis emas dan permata, tak punya arti apa-apa di mata Tuhan. Sangat mudah untuk mewujudkannya, bahkan kalaupun rakyat Banten menghendaki Gunung Karang memiliki kandungan emas, sangat mudah bagi Tuhan untuk mewujudkannya.

Tapi masalahnya, Allah belum tentu meridhoi apa-apa yang diizinkan oleh-Nya. Di sinilah pangkal utamanya. Seringkali karena minimnya kesabaran, manusia seenakanya mendesak-desak bahkan berani membentak-bentak Tuhan hanya untuk meraih apa yang diizinkan-Nya. Tapi untuk apa mendapatkan yang diizinakan oleh-Nya, tanpa disertai ridho dari-nya?

Jika manusia meraih sesuatu secara instan melalui jalan pintas, curang, menipu, mendatangi dukun atau orang pintar (kahin), niscaya dia hanya memproleh sesuatu berdasarkan izin-Nya belaka. Bisa saja dia kaya-raya bahkan berkuasa hingga puluhan tahun, bisa saja dia berumur panjang sampai 100 tahun. Tapi apalah arti 100 tahun dalam perhitungan waktu Allah? Apalah arti uang milyaran, semuanya itu kecil di mata Allah. Bahkan apalah arti kedudukan tinggi hingga meraih penguasa negeri adikuasa sekalipun.

Allah Maha Menggenggam seluruh jagat raya berikut isinya, sudah barang tentu Dia menguasai segala isi kandungan yang terdapat dalam planet sekecil bumi ini. Bahkan setiap binatang melata dalam perut bumi sekalipun, sudah ditentukan rizkinya oleh Allah Swt. (surat Hud: 6)

Allah juga Maha Menentukan ajal setiap kehidupan dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada jaminan bagi sang dukun yang menyantet wartawan akan lebih panjang umurnya daripada wartawan yang disantetnya. Tidak ada jaminan bahwa umur orang pintar akan lebih panjang daripada sang penulis opini yang dibenci dan didengki olehnya.

Banten saat ini sudah memasuki era kecerdasan dan kesadaran untuk membuka dan berkaca diri. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi  untuk mendakwahkan ilmu Allah, meskipun terasa pahit bagi yang mendengar dan membacanya. Bagi yang terkungkung pada mindset lama (mitologi Banten) kiranya perlu memahami proses disrupsi ini. Memang tidak mengenakkan bagi yang terlampau membanggakan status quo, tapi toh hukum alam terus berjalan. Dan selalu yang menjadi pemenang adalah pemikiran yang memiliki dimensi yang lebih tinggi.

Karenanya, dimohon bagi para pemegang istidraj untuk menyingkir (terdisrupsi). Semakin cepat menyadari semakin baik bagi Anda, semakin cepat menyingkir semakin benar bagi jalan hidup Anda. Allah Maha Teliti dalam menghisab hamba-hamba-Nya. Ketika Anda terjatuh dari kedudukan tinggi, ketika Anda kehilangan kesehatan, bahkan harta kekayaan yang cepat melayang. Ketahuilah, bahwa hal tersebut berarti Allah masih sayang kepada diri Anda. Ketika kemuliaan terenggut menjadi kehinaan, berarti Allah masih menyukai Anda. Segeralah bermuhasabah dan introspeksi diri. Kita ini hamba yang bukan siapa-siapa, juga harta kedudukan yang dimiliki, tak ada artinya dalam pandangan Allah.

Untuk apa bersikeras mempertahankan sesuatu yang takdirnya pasti mencelakakan hidup Anda? Untuk apa berambisi mengejar sesuatu yang sudah pasti takdirnya akan menjerumuskan hidup Anda? Itulah takdir bagi mereka yang jalan hidupnya menyimpang. Itulah takdir bagi mereka yang memilih jalan hidup yang tidak lurus, dan karenanya tak pernah mendapat rihdo Allah.

Di masa-masa akhir bulan Ramadan ini, mari kita menadahkan tangan, bersimpuh, memohon ampun dan perlindungan dari-Nya. Siapa yang dapat melindungi jika Allah menghinakan diri kita, serta membeberkan aib dan kesalahan kita. Siapa yang dapat mencelakakan kita jika Allah sudah melindungi diri kita. Bahkan ribuan balatentara jin dan manusia, tak mampu berbuat apa-apa jika Allah sama sekali tak memberikan izin kepada mereka. Cukuplah Allah yang menjadi Pelindung dan Penolong bagi hidup kita. Amin ya rabbal alamin. (*) 

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Ketika Dukun Kehilangan Pasar 

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1419 dibaca
Andika Minta BPN Bantu Tuntaskan Sertifikasi Lahan Sekolah
1367 dibaca
KPU Akan Gladi Pendaftaran Calon Bupati dan Wakil Bupati Serang

HUKUM & KRIMINAL

1258 dibaca
Ringkus Dua Pengedar, Polisi Amankan 27 Paket Sabu
1894 dibaca
10 Tahun Bisnis Narkoba, Hendra Tewas Ditembak Polisi

POLITIK

315 dibaca
Kader PDI Perjuangan Diminta Sapa Masyarakat Menangkan Airin-Ade
1413 dibaca
Kaum Muda Marjinal Bisa Masuk AMI Banten

PENDIDIKAN

2078 dibaca
Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Program Literasi Terus Dikembangkan
Top