Renungan Awal Ramadhan 1438 H
Oleh: Chudori Sukra
“Sifat sombong tak bisa dibenarkan, baik bagi pendukung Ahok maupun Rizieq Shihab. Karena sesungguhnya Allah Maha Menyimpan dokumen kebaikan dan keburukan sepanjang sejarah kehidupan kita. Sangat mudah bagi-Nya untuk membuka salah satu dokumen menjadi viral di mata publik, jika seseorang bersikap angkuh dan sombong.”
Betapa seringnya kita menyaksikan orang yang terlampau memuji ustad atau kiai, dan menilainya sebagai ahli ilmu. Padahal Rasulullah mewajibkan kita agar meneladani orang yang mukhlis dan banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya. Lihatlah perilaku orang yang teguh imannya dalam menghadapi segala pujian maupun caci-maki. Ia menganggapnya sebagai musim yang dipergilirkan semata, bagaikan hujan dan kemarau, sehat dan sakit, siang dan malam datang silih berganti. Belum tentu seorang ustad sanggup menghadapi masa-masa sulit dengan penuh kesabaran, dan belum tentu juga seorang kiai banyak bersyukur ketika menghadapi masa-masa lapang dan bahagia.
Tetapi orang yang teguh rasa cintanya kepada Allah, tak terlampau menghiraukan pujian ditujukan kepadanya, juga tidak akan lari dari cacian dan makian yang ditujukan kepadanya. Karena itu, betapa banyak orang berilmu namun ia telah disesatkan oleh ilmunya. Betapa banyak orang solat dan puasa yang ditujukan ketergantungannya pada makhluk. Betapa banyak orang yang aktif beragama, namun begitu senang dipuja dan dipuji karena kefasihan dan ketekunannya beribadah.
Kita sering mendengar wejangan seorang ustad di kobong maupun pesantren, membahas bab thaharah (bersuci) dari kitab-kitab kuning kegemarannya di seantero Banten. Tapi berapa persenkah pesantren-pesantren yang mempedulikan pentingnya kebersihan dan kesucian tempat para santri mandi maupun berwudhu. Berapa persenkah dari kiai maupun ustad yang nyambungketika wacana dan opini membahas soal pentingnya revolusi toilet di negeri ini. Jadi, apa manifestasi dari materi-materi pengajian yang dikumandangkan oleh mereka?
Cukup banyak orang yang ahli ibadah namun merasa bangga ketika para makhluk tunduk dan taat kepadanya. Mereka rela menyerahkan hartanya, memuji dan mengagumi di rumah-rumah dan majlis taklim mereka. Kemudian mereka merasa telah berhasil dengan membuat para pengikutnya patuh dan tunduk kepadanya. Seorang kiai yang wara dan zahid, yang terbiasa dimintakan air putih bagi kesehatan dan kesembuhan pasiennya akan mengatakan di hadapan Allah, “Ya Rabb, aku takut mereka bergantung kepadaku dan bukan kepada-Mu, aku takut mereka memasrahkan dirinya pada perkataanku, dan bukan pada perintah-Mu. Sungguh aku ini bukan siapa-siapa di hadapan-Mu, ya Allah.”
Wahai para pemimpin dan pemangku kebijakan publik, ketika maut datang menjemput, tak ada satu pun yang bisa menolong diri kalian, termasuk kedudukan dan harta yang kalian raih. Semuanya itu akan berpindah dalam pangkuan orang lain, sementara hisab menanti kalian tanpa pandang bulu. Tak ada urusan apakah kalian pejabat tinggi maupun tukang cukur, tak ada perbedaan apakah kalian birokrat dan politisi ataupun tukang sampah di jalanan.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyatakan bahwa ahli ilmu yang sesungguhnya adalah pengganti Allah di bumi-Nya, menjadi utusan-Nya, pewaris para nabi dan rasul-Nya. Bukan mereka yang bicara dengan penuh retorika dan pembenaran. Juga bukan mereka yang kelihatan rajin ibadah namun secara batin penuh dengan kepura-puraan semata. Apakah orang yang kelihatan rajin taraweh, tadarus, berpuasa kemudian berbuka dengan lahapnya, sudah termasuk dalam kategori “ber-islam dengan baik”?
Mereka yang masih menghimpun berhala-berhala ketakutan pada penguasa dan makhluk, tak lain hanyalah bersyahadah dalam ucapan semata, tapi belum merasuk ke dalam qolbunya. Perkataan “tiada tuhan selain Allah”, hanyalah dusta belaka. Karena dalam hati mereka masih diselimuti seperangkat berhala, termasuk berhala dalam menghendaki pujian dari penguasa, ketakutan akan hilangnya pangkat, jabatan, kedudukan dan sebagainya.
Termasuk prinsip mengandalkan kemampuan pribadi, kecerdasan otak, karya dan kreasi manusia, adalah bagian dari berhala-berhala juga. Bahkan persepsi seseorang bahwa datangnya nikmat dan bencana, kesenangan dan kesengsaraan, kesempitan dan kelapangan, adalah bagian dari kekuatan dan kelemahan manusia sebagai makhluk, tak lain adalah pandangan yang bersifat duniawi, akali, dan termasuk berhala juga. Betapa banyak orang menyebutkan semua itu sebagai upaya dan jerih-payahnya, lalu mereka memamerkan, menampakkan seakan-akan mereka adalah ahli ijtihad, ahli takwa dan tawakkal. Mereka mengucap zikir sebatas di lisan namun tidak merasuk dalam hatinya. Mereka membanggakan gaya dan styling, berjubah dan bersorban, dengan tasbih bergelayut di jemarinya. Mereka mengklaim seakan-akan hanya jamaahnya saja yang berhak masuk surga. Sementara dengan mudahnya mengklaim kelompok lain sebagai sesat dan kafir.
Bukankah semuanya itu adalah hak prorogatif Allah semata? Masuk surga dan neraka, bahkan kapan datangnya hari kiamat. Mengapa untuk urusan yang merupakan hak dan kewenangan Allah, dengan sombong dan angkuhnya mereka ambil alih juga?
“Jadilah seorang muslim yang ber-islam dengan kaffah!” Demikian mereka berteriak mengutip hadis nabi. “Tidak ada tuhan selain Allah!” Lagi mereka mengucapkan lafadz tersebut dalam lisan-lisan mereka. Tapi apakah benar bahwa mereka hanya bertuhan kepada Allah saja, sambil menafikan tuhan-tuhan lainnya? Apakah pernyataan “selain Allah” itu merupakan penetapan total hanya kepada-Nya, bukan selain-Nya? Tapi kenapa masih ada sisa ruang dan waktu bagi hati mereka untuk mengandalkan kekuatan lain selain Allah Azza wa Jalla?
Lebih jauh lagi, apakah teriakan mereka saat solat taraweh, atau puasa mereka dengan berbuka melimpah makanan-minuman, dapat mengubah kepribadian mereka sebagai hamba yang mampu menyantuni orang-orang dina, lemah, dan miskin? Apakah haji mereka mutlak dipersembahkan kepada Allah, ataukah mereka akan kecewa setengah mati ketika tidak ada yang menyebutnya ‘Haji Hudori’ atau ‘Haji Bazari’ atau ‘Hajah Nuraeni’ dan seterusnya?
Kalau demikian halnya, berarti layak dinyatakan kepada Anda, bahwa Anda adalah pendusta agama. Karena memang ada berhala-berhala yang masih Anda andalkan dalam hidup Anda. Padahal tidak mungkin hati manusia bersandiwara di hadapan Allah. Hati manusia adalah pemimpin, sedangkan anggota badan lainnya hanyalah pasukan semata. Karena itu, jika Anda mengucap “La-ilaha illallah”, haruslah bermula dari hatimu, setelah itu terucap melalui lisanmu. Pasrahkan hanya kepada-Nya, gantungkan hanya kepada-Nya, bukan pada suatu apapun yang selain-Nya. Bukan pada cincinmu, bukan pada asesorismu, bukan pada harta duniawimu, juga bukan pada pangkat, jabatan dan kedudukuanmu.
Memang ada sedikit orang yang diberi pengecualian hingga mencapai tahap makrifat. Setelah itu ia merenungkan anugerah Allah itu mesti disembunyikan, dan bukan untuk dipamerkan berdasarkan nafsu ingin dipuji dan dihormati. Orang yang arif dan bijak itu tetap merjalankan agamanya dengan baik, sabar dalam menghadapi bencana, bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Ia senantiasa zuhud dari segala hal yang selain Allah. Dengan demikian, Allah memberikan kelebihan dengan kepemimpinan ruhani dan kewalian atas makhluk-makhluk lainnya. Setiap orang yang memandangnya senantiasa meraih manfaat karena kharisma Ilahi dan cahaya-Nya yang membias padanya.
Hamba semacam itulah yang layak disebut ahli ilmu dan ahli ibadah, dan kepadanyalah kita layak berguru dan menimba ilmu. Bukan pada mereka yang hanya banyak menimbun harta, pangkat dan jabatan duniawi. Ya Allah, berikanlah kami di dunia kebajikan, di akhirat kebajikan, dan lindungilah rakyat Banten dari siksa api neraka. (*)
Penulis Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang