Sabtu, 18 April 2026

Kematian Para Pakar

(Foto Ilustrasi)
Senin, 31 Jul 2017 | 19:54 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Habib M

Ramalan budaya dan ilmu pengetahuan, yang pernah diungkap harian-harian umum Banten terus menggelinding dari waktu ke waktu. Dalam salah satu opini tentang pergeseran (disruption) pernah disampaikan sejak beberapa tahun lalu, misalnya tentang generasi zetizen yang terus merambah kalangan santri, hingga mereka tak memerlukan waktu puluhan menit untuk membuka kitab Fathurrahman guna mengetahui sumber ayat maupun surat dari Alquran. Kini mereka hanya membutuhkan beberapa detik saja dengan meng-klik search engine, serta-merta terungkap ayat apapun yang kita butuhkan dari Alquran.

Kemudahan itu terus bisa kita nikmati sebagai keniscayaan dari pesatnya arus transformasi. Kini siapapun dengan mudah meneliti unsur intrinsik maupun ekstrinsik dari ratusan bahkan ribuan jenis kitab-kitab agama, termasuk biografi dari para penulisnya. Segalanya sudah saling bersinambung dan saling mengakumulasi. Gerakan kopimisme (dari kata: copy me) yang diprakarsai anak-anak muda sedunia, dan diawali dari negeri Swedia (Eropa) terus merambah dalam skala massal, hingga disambut dengan antusias oleh pakar-pakar sains dan teknologi baik di Amerika, Australia, Asia, hingga Afrika.

Baru-baru ini dunia keilmuwan dikagetkan kembali oleh munculnya buku yang ditulis seorang profesor di Harvard University, Tom Nichols, dengan judul besar “Kematian Kepakaran” (The Death of Expertise, 2017). Buku yang baru saja diluncurkan beberapa bulan lalu, mengulas tentang kampanye terbuka di dunia keilmuwan, untuk mendobrak kultur yang dikenal konvensional dalam monopoli ilmu dan pengetahuan yang selama ini dianggap mapan. Dunia internet yang memunculkan gelombang literasi yang mendominasi wacana-wacana dunia, memang cukup meresahkan banyak orang. Semula revolusi ini dianggap instan belaka, namun ternyata masyarakat dunia semakin melakukan sanering bagi karya-karya berbobot yang layak menjadi acuan dan referensi akademis, kebudayaan, hingga ke soal agama-agama dunia.  

Nichols membuka bukunya dengan mengkritik fenomena yang terjadi di negerinya sendiri. Banyak orang Amerika dinilai bukan saja ahistori tapi juga buta terhadap wilayah-wilayah geografi dunia. Di era transformasi ini, banyak orang Amerika yang ternyata berpandangan sangat eksklusif hingga mencapai taraf kedunguan (ignorance). “Mereka terobsesi oleh harapan dan cita-citanya sendiri, bukan hanya tidak paham wilayah geografis, tapi selama ini mereka terlampau bangga dengan tidak mengetahui banyak hal.”

Kini dunia ilmu dan teknologi di negeri tertentu tak bisa memonopoli dan mengkultuskan para pakarnya sendiri. Hal ini sudah diprediksi oleh ungkapan sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa, jika seseorang terlalu banyak berkecimpung di wilayah yang bukan ahlinya, tunggulah saat keruntuhannya. Dalam kaitan itu, Nichols terus menerabas kemapanan, bagaimanakah nasib dunia ini jika pakar-pakar di bidangnya semakin tidak mendapat pengakuan publik? Bagaimana nasib jurnalis, sastrawan, insinyur, diplomat, dokter, pengacara, hingga ulama dan kiai? Apakah dunia dapat berfungsi tanpa peran mereka yang sudah mapan itu? Ataukah sebagian dari mereka akan terdisrupsi, karena memang hanya formalitas bikinan manusia, cuma lokalitas tertentu yang menganggap mereka sebagai pakar?

Lalu, bagaimana jika seseorang butuh pembelaan atas perkara yang dituduhkan, atau seseorang mengalami kecelakaan dan patah tulang, atau seorang santri butuh pendalaman ilmu fikih maupun ushul fikih? Bukankah dalam hal ini pengacara, dokter maupun kiai dan mursyid sangat diperlukan? Dalam bukunya itu, Nichols masih juga punya jawaban bahwa yang dimaksud “kematian para pakar” bukan soal keahlian teknis. Bukan hanya soal ilmu-ilmu yang dihafalkan, tapi wilayah pemikiran, intelektual, yang bisa dicari pembandingnya atau dikroscek dengan berbagai wilayah ilmu lainnya. Bahkan soal agama pun, dunia semakin membuka mata untuk mencari dan menelusuri seagala hal yang lebih mendekati kebenaran dan kebaikan universal.

Sebagian anak-anak muda Indonesia menilai dunia kampus telah dijadikan ajang bisnis dan persaingan ekonomi. Mereka tidak lagi menganggap penting dunia akademisi macam itu, mereka tak merasa perlu untuk belajar dari sistem semacam itu. Anak-anak muda sudah mahir mengakses ilmu pengetahuan sendiri, mampu belajar secara interaktif dengan para pakar dan dosen di Australia, Eropa, hingga Timur Tengah, tanpa harus terbang ke luar negeri.

Di provinsi seribu kiai dan jawara ini, yang seringkali dipersoalkan adalah kepakaran di bidang keagamaan, tentang tafsir Quran maupun hadis Nabi, terutama soal-soal keislaman dan kepesantrenan. Dalam hal yang rada-rada nyelekit, muncul pertanyaan yang harus ditanggapi dengan sabar: “Apakah masih diperlukan berguru pada kiai dan ustad di pesantren? Bukankah semua bentuk firman dan fatwa dengan mudahnya tinggal klik melalui internet?”

Dalam hal ini, peranan buku yang dilahirkan dari kepakaran seseorang memang sulit tertandingi oleh kemampuan intelektual yang bersifat instan. Dunia perbukuan memainkan peran penting di tengah transmisi intelektualisme dalam sebuah peradaban. Kita bisa bayangkan, bagaimana perkembangan Islam jika tidak diperkaya oleh khazanah keilmuwan dari pakar-pakar yang kompeten di bidangnya. Ketika lahirnya peradaban mesin cetak, karya-karya besar dari para pemikir dan filosof muslim terus merambah ke seluruh penjuru dunia, diterjemahkan, dianalisis, ditafsirkan, hingga memunculkan para ilmuwan dan filosof besar, baik di timur maupun di barat.

Sejak zaman para sahabat Nabi, kita mengenal kepakaran Abdurrahman bin Harits,  Abdullah bin Zubair, Zaid bin Tsabit, Said bin Ash, hingga Ali bin Abi Thalib. Di samping para sahabat lainnya yang mahir mendokumentasikan ayat-ayat Quran, lima pakar dalam literasi itu sangat memiliki andil dan peran penting dalam penghimpunan naskah-naskah Quran, yang kemudian mengalami cetak ulang hingga milyaran eksemplar setelah memasuki zaman mesin cetak digital.

Bayangkan, seandainya Imam Bukhari, Imam Syafi’i, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Alfarabi, hingga generasi Syekh Nawawi, tidak menulis buku sesuai dengan kepakarannya. Bagaimana kita yang hidup ratusan tahun setelah mereka bisa mendalami warisan intelektual mereka, baik dalam bidang ilmu-ilmu keislaman maupun bidang-bidang yang lainnya?

Warisan tradisi intelektual hingga tradisi menuangkan ilmu dalam tulisan (literasi) memiliki sejarah unik dalam peradaban Islam, dan dengan itu Islam akan dipahami dengan indah dan menakjubkan. Perjuangan para cendikiawan dari zaman ke zaman, dalam mempertahankan tradisi intelektual Islam, merupakan warisan agung yang tak tertandingi oleh kecanggihan teknologi manapun.

Imam Syafi’i menggambarkan seorang eksplorator dan pencari ilmu yang diibaratkan seseorang yang sedang berburu binatang liar. Baginya, ilmu adalah binatang buruan yang dicari, dikejar-kejar hingga didapatkan (dalam memori dan pikiran). Sangat disayangkan jika binatang itu lepas kembali dari genggaman lantaran kita tidak mengikatnya dengan baik. Karena itu – menurut Imam Syafi'i – tulisan adalah pengikat ilmu. Ia harus diikat dengan kuat agar tidak hilang dari memori umat manusia.

Dengan demikian, pesan sederhana yang ingin saya kemukakan, tak beda jauh dengan amanat yang sering dilontarkan para penulis opini di harian Banten ini. Menulislah, karena sehebat apapun kepakaran Anda, jika tidak memiliki keterampilan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan, sebanyak apapun ilmu pengetahuan yang Anda peroleh, ia akan hilang dan musnah bersamaan dengan batas-batas usia Anda. Wassalam. (*)

Penulis Guru dan pemerhati pendidikan Banten

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Kematian Para Pakar

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

11315 dibaca
Kejam, Perusahaan di Jawilan Potong Gaji Karyawan Jika Izin Sholat Lebihi Waktu
477 dibaca
Buka Muscab PHRI, Bupati Tatu Ajak Bangkit Bersama Kembangkan Pariwisata

HUKUM & KRIMINAL

960 dibaca
Majikan Perkosa ART yang Baru Kerja 5 Hari
1405 dibaca
Korupsi Dana Bansos Mengalir Sampai Jauh

POLITIK

1829 dibaca
PPP Akui Ikut di Koalisi Perubahan Bentukan PDIP
326 dibaca
Dapat Rekomendasi PAN di Pilkada Banten, Airin Diminta Perkuat Pencalonan

PENDIDIKAN

1865 dibaca
Peringati Hardiknas, Polantas Kompak Pakai Seragam Sekolah
Top