Oleh: M. Muckhlisin
Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak.
Saya bisa memahami ketika Pak Alawi dan Ibu Noviariesta mengakui bahwa mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat keluguan dan kelucuan ulah kaum politikus kita. Bahkan dalam salah satu artikelnya, sastrawan kondang A.S. Laksana menyatakan, di tengah kepengapan dan kegaduhan politik akhir-akhir ini, bagaimanapun setiap individu bertanggungjawab untuk merawat pikirannya agar tetap sehat walafiat.
Rupanya, dari hasil penelitian para dokter dan psikolog, tertawa bukan hanya mampu menghilangkan stres dan depresi, tapi juga mencegah penyumbatan pembuluh darah hingga memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Supaya otak dan pikiran kita tidak korslet, apa salahnya menertawakan orang-orang yang memang pantas ditertawakan. Kadang-kadang kita lupa berterimakasih kepada para komedian yang membuat otak kita tetap sehat, misalnya Srimulat, Warkop, Jojon, Komeng, hingga Mr. Bean, Chaplin dan seterusnya. Kita bisa bayangkan bagaimana nasib dunia ini bila Tuhan tidak mengutus orang-orang yang dapat membuat kita tertawa. Dan inilah salah satu dari keagungan Tuhan Yang Maha Pengasih, yang kadang kita lupa untuk mensyukurinya.
Terkait dengan dunia politik, kita masih ingat di akhir masa pemerintahan SBY beberapa waktu lalu. Kicauan sang bendahara Nazaruddin di tempat persembunyiannya, membuat para kader SBY kocar-kacir tersandung kasus Hambalang. Mantan orang nomor satu itu kian terpojok. Hukum alam dan sunatullah kian menyingkap. Nazaruddin terus merangsek, sampai-sampai Anas Urbaningrum, mantan panglima HMI ikut dijewer KPK.
“Saya yakin. Satu rupiah saja saya korupsi di Hambalang, gantung saya di Monas.” Ucapan ini meluncur saat Anas berstatus tersangka. Kata-katanya santun, lembut, tipikal khas SBY atasannya. Tapi mengandung raut-raut keangkuhan yang menganggap dirinya serba suci dan jernih. Mana mungkin ada orang yang bersih dari salah dan dosa. Mestinya musibah pencekalan oleh KPK itu membuat dirinya introspeksi dan muhasabah di hadapan Allah, mengakui kelemahan, kekhilafan, istighfar dan memasrahkan dirinya kepada Sang Maha Suci. Tak perlu merasa yakin bahwa diri kita ini suci, juga tak ada orang yang mau nekat membiarkan dirinya digantung di atas monumen kebanggaan bangsanya sendiri.
Tapi jenis lawakan di atas bersifat komedi sarkastis. Saya tak bisa tertawa terpingkal-pingkal, hanya tersenyum miris. Beda dengan membaca buku Perasaan Orang Banten yang meneropong keluguan dan kepolosan dari gestur penguasa dan politisi Banten. Karena itu, ketika mencermati artikel seorang tokoh yang konon pernah menjenguk Ibu Atut, dan terlihat tanda-tanda penyesalan pada dirinya yang selama ini merasa terperosok ke lubang galiannya sendiri. Saya bisa paham dan maklum adanya.
Sedangkan Anas Urbaningrum justru banyak belajar dari gaya politik angkatan perang (militer) seperti SBY, yang kadang batunya dilempar tapi tangannya tidak kelihatan. Setelah itu, dia nyerocos di hadapan publik seolah-olah itu adalah tangan Tuhan. Karuan saja ketika bukti-bukti sudah kuat, dan vonis dijatuhkan, masih saja Anas ngotot merasa dizalimi. Wong dia sendiri ikutan ngeruk-ngeruk tanah membikin lubang. Kok ketika terperosok malah lubangnya yang disalahin. Mestinya dia bersyukur bahwa tak satu pun organisasi sosial, termasuk ormas Islam yang tega menuntut janjinya.
Untung saja Habib Rizieq kurang mengikuti perkembangan kasusnya. Coba kalau dia fokus memperhatikan janji Anas yang bicara dengan penuh keyakinan, bisa-bisa sang Habib pergi ke pasar Tanah Abang untuk membeli tambang yang siap dipertontonkan di atas monas, sambil mengutip dalil-dalil sahih tentang kewajiban menepati janji. Oleh karena itu maka alhamdulillah wasyukru lillah, semua anggota tubuh Anas tetap utuh, dan tidak satu pun yang copot atau terpotong.
Lain lagi dengan Haji Lulung, panggilan akrab Abraham Lunggana, sang wakil ketua DPRD DKI Jakarta. Orang ini diciptakan Tuhan untuk menjadi figur antagonis melawan Ahok, dan dia taat dengan takdir hidupnya. Haji Lulung sangat vokal di dunia politik. Kata-katanya menggelegar seperti gledek. Kalau dia berteriak menyampaikan orasi politik, bulu kuduk siapa saja bisa merinding. Entah berapa ribu jin yang dia pelihara, sampai-sampai orang terperangah pada lontaran-lontaran politiknya, baik yang benar maupun yang palsu belaka.
“Iris kuping gua kalau dia (Ahok) maju melalui jalur independen!” ujarnya lantang. “Nih, potong kuping gua nih, sampai putus dua-duanya,” tambahnya sambil menunjukkan kedua kupingnya yang rada seksi.
Pada hari-hari menjelang batas pendaftaran, tentu menjadi hari yang teramat berat bagi Haji Lulung. Apakah Ahok tega membiarkan dia berkantor di DPRD tanpa menyandang kedua kupingnya. Sedangkan kerjaannya mendengar aspirasi rakyat. Kita bisa bayangkan kalau dia menjadi salah satu tokoh politik metropolitan, yang sedang serius mendengar aspirasi rakyatnya tanpa kedua belah kuping. Barangkali Haji Lulung akan ngotot menggurui wartawan, “Biarpun saya ini pejabat yang tanpa telinga, saya tetap mendengar dengan hati nurani dan kalbu saya, mengerti?”
Pada prinsipnya, Ahok paham tipikal Haji Lulung itu orangnya nekat banget. Berhubung Ahok termasuk politisi yang banyak belajar dari Bapak Confucius (filosof China), karuan saja dia bersikap layaknya kaum sufi, sampai akhirnya memilih legowo. Ahok tak mau melihat rivalnya itu merusak penampilannya sendiri. Apalagi jika berkantor mengenakan sepatu, jas dan dasi mahal, tapi tanpa kedua belah kuping. Ya, Ahok paham betul, demi menjaga rival politiknya agar abadi menjadi tokoh antagonis, akhirnya dia putuskan berdiri dengan pengawalan partai politik. Sambil minta maaf kepada jutaan pendukungnya yang telah berjuang mengumpulkan suara melalui jalur independen. Dalam beberapa saat para pendukungnya kecewa, tapi mbok ya tega menertawakan rival politik Ahok yang ngantor tanpa telinga. Aya-aya wae.
Konon Haji Lulung ini memiliki nyawa ketujuh, dalam tubuhnya mengandung hormon adrenalin politik yang melimpah, hingga dia kecanduan pada tantangan. Pada kasus korupsi pengadaan UPS (Uninterruptible Power Supply) dia menampik keterlibatan dirinya, kemudian berteriak melengking: “Saya tidak terima nama saya disebut-sebut dalam skema aliran uang suap! Saya punya istri dan anak. Jika saya terlibat korupsi USB saya berani bersumpah, saya mati sekeluarga. Kubur saya hidup-hidup!”
Dia salah menyebut UPS, entah disengaja atau tidak. Atau memang mau berekelit dari kenyataan yang sebenarnya. Tentu saja dalam kasus korupsi USB dia tidak terima aliran suap satu rupiah pun. Karena memang tidak ada yang namanya korupsi USB, kecuali colokan flashdisc di laptop saya. Kalau saja dia anggota DPRD di Banten, boleh jadi dua kali dia dilantik. Hari Kamis dilantik sama Plt. Gubernur, malam Jumatnya dilantik jadi “Kiai Haji” di kaki Gunung Karang, oleh sang tokoh flamboyan dalam esainya Kang Chudori dari pesantren Jawilan, yakni Mbah Sumadi.Setelah itu, muncullah jenis ilmu baru dalam dunia literasi, bukan puisi esaistik, tapi cerpen opinistik. Ya, di kalangan politisi Banten, orang macam Haji Lulung banyak penggemarnya, tak terkecuali di kalangan ustad yang berjenggot. Tapi kalau pamornya lagi turun, rame-rame mereka meninggalkannya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.
Lain Haji Lulung, lain lagi dengan Ahmad Dhani yang ikut nyemplung ke panggung politik. Musisi kawakan yang mendukung kampanye Prabowo ini, pernah menulis di akun Twitter-nya, bahkan bersumpah dia akan memotong kemaluannya apabila Prabowo bisa dikalahkan oleh Jokowi. Dhani pun menambahkan dengan kalimat akhir yang serius: “Catat, itu sumpah saya!” Hmm, ini janji yang tidak main-main. Disaksikan oleh ribuan bahkan ratusan ribu pendukungnya. Konon dia mengklaim memiliki jutaan penggemar, dan mereka tentu menunggu momen yang menegangkan itu. Sampai pada akhirnya, Jokowi justru tampil sebagai pemenang. Dan jutaan penggemar Dhani tentu menanyakan perihal nasib kemaluan sang pelantun Republik Cinta itu.
Dalam imajinasi saya, apabila Dhani betul-betul dikebiri, maka tokoh Santi si bencong dalam novel Perasaan Orang Banten, boleh jadi berkelakar: “Aiih, Mas Dhani, mau donk perkututnya, biar kurungan karetnya eke yang buatkan deh, dijamin steril…”
Demikian, apa boleh buat, memang seperti itulah ulah kelakuan kaum politisi kita. Kadang-kadang mereka genit melucu di depan publik dan konstituennya, meskipun selera humor mereka pas-pasan. Secara pribadi saya juga tak sampai hati jika di antara mereka benar-benar digantung di monas, kehilangan kuping atau kemaluannya. Sebagai warga Banten, saya tak mau politisi kita ikut-ikutan genit menirukan gaya dan ulah mereka. Berjanji gak puguh, lantas dengan entengnya mengingkari janji yang dibuatnya sendiri, di hadapan umat dan disaksikan Tuhan Rabbul Izzati… (*)