Sabtu, 18 April 2026

Fenomena Baduy Muslim

(Foto-Istimewa)
Selasa, 26 Des 2017 | 18:15 WIB - Banten Suara Pembaca

Oleh : Muhamad Pauji

Pegiat Gema Nusa Banten, simpatisan organisasi OI Banten

Banyak orang Banten yang belum memahami komunitas orang Baduy, bahwa mereka sebenarnya tak suka disebut “orang Baduy”. Penyebutan Baduy seumumnya dilakukan oleh para peneliti, antropolog, atau masyarakat yang berada di luar wilayah pemukiman Baduy. Oleh karena saya berada di luar mereka, dalam posisi mengamati budaya dan karakteristik mereka, maka saya pun dengan berat hati memakai istilah “orang Baduy”.

Mereka lebih suka disebut Urang Cibeo, Urang Kanekes, atau Urang Tangtu, sesuai dengan nama daerah teritorial yang dibikin oleh leluhur mereka. Menurut analisis sejarawan Hoevell, penyebutan nama Baduy pertama kali dilakukan oleh orang-orang yang berada di luar wilayah mereka, yang pada umumnya sudah memeluk Islam. Bagi mereka, sebutan ‘Urang Baduy’ cenderung tendensius seakan-akan suatu sindiran atau penghinaan untuk komunitas mereka. Sebab kata Baduy dalam istilah Arab berasal dari kata “Badwi”, cenderung bermakna kuno atau udik, seperti halnya sebutan orang Gypsi yang berpindah-pindah tempat (nomaden), tergantung dari persediaan kebutuhan pangan mereka.

Suku-suku Bedouin di wilayah Arab pada umumnya tinggal di wilayah padang pasir, terkesan primitif dan bergantung pada alam. Dengan sendirinya ribuan pendatang Cirebon dan Demak di masa kejayaan Sultan Hasanudin memakai istilah yang sama untuk penyebutan suku pedalaman yang bergantung pada alam. Maka istilah “Baduy” menjadi baku dan populer, bahkan beberapa nama sungai dan gunung di sekitar pemukiman mereka disebut pula sungai Baduy atau gunung Baduy.

Menurut para tetua adat (kokolot) yang sudah memeluk Islam, konon masyarakat Baduy memiliki kepercayaan bahwa asal usul mereka berhubungan langsung dengan silsilah Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Di sisi lain, sebagian mereka masih menaruh kepercayaan pada kekuasaan tujuh Dewa (Batara Cikal) yang mengutus mereka sebagai khalifah untuk menjaga kelestarian bumi.

Sebagian sejarawan menolak pandangan yang dianggap irasional tersebut. Ada yang menyebut bahwa mereka berasal dari keturunan kerajaan Pajajaran. Pada abad ke-13, ketika seluruh tanah Pasundan dikuasai Pajajaran (Prabu Siliwangi) maka wilayah teritorial Pasundan terus meluas hingga membentang meliputi daerah Banten, Bogor, Priangan hingga ke Cirebon. Ketika memasuki abad ke-17, kerajaan Sunda berhasil ditaklukkan balatentara Sultan Hasanudin dari Cirebon, hingga atas instruksi pimpinannya (Prabu Pucuk Umun) mereka melarikan diri ke daerah pedalaman. Di sana mereka menetap dan berkembang-biak, dalam suatu kelompok masyarakat yang kemudian kita sebut dengan masyarakat Baduy.

Pendapat seorang doktor peneliti Van Tricht, lebih mendekati kesepakatan para tetua Baduy, bahwa mereka adalah asli dari daerah setempat, bukan pelarian dari kerajaan Pajajaran. Mereka adalah sekumpulan masyarakat pedalaman yang memiliki daya tolak yang tangguh dari unsur-unsur budaya luar (modern). Tidak sedikit dari mereka yang meyakini keberadaan dirinya selaku khalifah yang diutus, manusia terpilih yang diberikan tugas dari Dewa untuk menjaga mandala (kawasan suci), tempat pemujaan leluhur (kabuyutan), yang di sekelilingnya dihuni sebagai kediaman mereka.

Dari pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan seakan-akan masyarakat Baduy dikenal sebagai komunitas yang eksklusif dan taat pada kepercayaannya. Namun, pada tahun-tahun terakhir semakin banyak orang Baduy yang memeluk Islam, dan kemudian disebut sebagai “Baduy Dangka”. Menurut penuturan pemimpin pesantren Sultan Hasanudin, Kiai Zainuddin Amir (Leuwidamar), perpindahan kepercayaan itu bukannya tanpa risiko. Orang Baduy yang memeluk Islam akan terusir dari daerah Baduy Dalam, juga tidak diakui sebagai penduduk Baduy Luar.

Masyarakat Baduy Dangka bertempat tinggal tak begitu jauh dengan Baduy Luar. Cara berpakaian mereka hampir sama, kecuali sebagian wanitanya yang sudah memakai jilbab. Dalam acara-acara tertentu yang dianggap sebagai kesakralan dari nenek-moyang, masyarakat Baduy Dangka masih turut-serta menjalankannya. Beberapa faktor yang membuat mereka memeluk ajaran Islam adalah karena pilihan dari hati nuraninya sendiri, bahwa di dalam Islam terdapat kemerdekaan dan keleluasaan dalam aturan-aturan keberagamaan.

Suatu komunitas Baduy yang hampir seluruhnya memeluk Islam berpusat di daerah yang mereka namakan “Cicakal Girang”. Atas kebijakan dari lembaga adat Baduy, warga Cicakal diperbolehkan membangun tempat huniannya dengan semen, pasir dan batu bata. Bahkan semakin banyak rumah yang sudah dilengkapi dengan lantai keramik, genting, meskipun tidak boleh dibangun terlalu mewah.

Di daerah Cicakal Girang juga terdapat perkebunan cengkeh, pesawahan, binatang peliharaan seperti kerbau dan kolam-kolam ikan, yang semuanya itu merupakan pamali dan pantangan bagi adat Baduy Dalam. Menurut pendekatan fenomenologi agama, William James berpendapat bahwa hal-hal yang menimbulkan pindahnya kepercayaan (agama) terjadi karena faktor internal dan eksternal dari penganutnya. Misalnya karena faktor kepribadian yang semakin terbuka, hingga memunculkan perbedaan pandangan, keretakan dan ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga.

Perbedaan pandangan itu juga mengakibatkan tekanan batin hingga terjadi konversi untuk mencari hal-hal baru dalam upaya meredakan ketegangan dan tekanan psikologis. Bisa jadi karena faktor lingkungan yang membuatnya merasa terasing dari orang-orang di sekitarnya. Pada saat ini, seseorang akan mengalami peningkatan persepsi tentang kualitas kebahagiaan dan ketentraman hidup. Dari sisi kesejahteraan, orang-orang Baduy juga cenderung memeluk agama dari komunitas masyarakat yang menjanjikan taraf hidup yang lebih layak.

Secara religius, tak lepas dari faktor petunjuk dan hidayah dari Yang Maha Kuasa terhadap masing-masing individu, hingga ia memasrahkan diri untuk menerima takdir kehidupan baru dengan penyerahan jiwa sepenuhnya. (*)


 

Redaktur: Akew
Bagikan:

KOMENTAR

Fenomena Baduy Muslim

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

999 dibaca
Urkes Polres Serang Periksa Suhu Tubuh Para Pengguna Jalan
507 dibaca
Nyabu Bareng Janda, Warga Cikeusal Digerebeg Personil Polres Serang

HUKUM & KRIMINAL

1629 dibaca
Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Anak Alami Peningkatan
1583 dibaca
Tahanan Kasus Kepemilikan Senpi Kabur, Jaksa Kalang Kabut

POLITIK

1906 dibaca
Ratusan Cakades di Pandeglang Deklarasi Damai
1047 dibaca
Sumbang Ribuan Suara, Emak-Emak Majelis Ta'lim Siap Menangkan Tatu-Pandji

PENDIDIKAN

873 dibaca
Pandeglang Jadi Lokus KKM Universitas Primagraha
Top