Sabtu, 18 April 2026

Cerpen Supadilah Iskandar: Hidup dalam Kesunyian (1)

Ilustrasi/Net
Sabtu, 10 Apr 2021 | 13:44 WIB - Suara Pembaca

Supadilah Iskandar (Esais dan cerpenis generasi milenial, menjadi tenaga pendidik di pedalaman Banten Selatan)

Mereka yang hadir dalam jamuan makan malam itu adalah para wartawan, politisi, pengusaha, ekonom, budayawan, termasuk para penceramah dan da’i kondang yang sering tampil di layar televisi. Dialog yang digelar setelah acara makan malam itu tentang pemberlakuan hukuman mati di Indonesia dengan menampilkan Bapak Karim Ilyas dan Nawal Shihab sebagai pembawa acara.

Banyak yang menilai bahwa hukuman mati adalah suatu bentuk hukuman yang sudah kunotak bermoral, bahkan mendahului kehendak Tuhan. Namun sebagian besar berpendapat bahwa hukuman mati perlu diterapkan untuk menciptakan shock terapy atau rasa takut bagi mereka yang masih hidup agar tidak mengulangi kejahatan serupa. Selain itu, banyak juga berpendapat bahwa hkuman mati mesti digantikan dengan penjara seumur hidup, dan undang-undang itu harus diberlakukan dari Sabang sampai Merauke.

“Tetapi saya berpendapat lain,” ujar seorang pengusaha sukses. “Secara pribadi, saya sendiri belum pernah merasakan hukuman dalam dua bentuk itu. Tapi saya ingin mengambil pertimbangan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, bahwa hukuman mati justru lebih beradab. Kenapa? Karena ketika seseorang dieksekusi, si korban langsung meninggal dunia seketika, tanpa rasa sakit. Tetapi hukuman seumur hidup adalah suatu bentuk pembunuhan terselubung yang diberlakukan secara perlahan-lahan.”

Pengusaha itu meneguk kopi sambil menikmati seleranya, kemudian lanjutnya, “Siapa algojo yang lebih manusiawi, apakah orang yang membunuh kalian hanya dalam hitungan detik, ataukah orang yang membunuh nyawa kalian selama bertahun-tahun?”

Semua yang hadir terdiam sambil berpikir. Seorang politisi angkat bicara memecah kesunyian, “Menurut saya, keduanya sama‑sama tidak bermoral, karena bagaimanapun tujuan dari keduanya sama saja, yakni mengambil kehidupan. Itu berarti mengambil hak dan anugerah yang diberikan Tuhan. Karena itu, hanya Tuhan yang berhak mengambil kembali nyawa setiap hamba-hamba-Nya.”

Seorang penceramah muda atau yang dikenal dengan da’i kondang mengangkat tangannya, lalu bicara lantang, “Hadirin sekalian yang saya muliakan. Bagaimanapun, baik hukuman mati atau penjara seumur hidup adalah perbuatan yang tidak manusiawi dan tidak bermoral,” ia terdiam sejenak, dan lanjutnya, “Tapi kalau saya disuruh memilih di antara keduanya, tentu saya akan memilih yang kedua. Sebab, seseorang yang masih bernyawa, itu lebih baik daripada orang yang tidak ada nyawanya sama sekali.”

Ruangan itu dipenuhi gelak-tawa dan saling pandang antara yang satu dengan lainnya. Sang pengusaha merasa tersinggung. Dengan sikapnya yang temperamental, ia pun memukul-mukul meja, lalu bicara lantang yang ditujukan kepada da’i kondang tadi:

“Omong kosong! Saya tidak percaya! Kalau apa yang Anda katakan itu benar, saya berani mengeluarkan uang dua miliar seandainya Anda sanggup dikurung, atau hidup dalam kurungan dalam waktu lima tahun saja.”

Semuanya diam terpaku. Penceramah muda itu merasa tertantang di hadapan publik. Lalu, ia pun mulai berhitung. Sekarang usianya 31 tahun. Kalau ia dipenjara selama sepuluh tahun, berarti ia akan keluar pada usia 41. Menurutnya, sangat jarang di negeri miskin ini, orang yang memiliki uang miliaran di usia 41 tahun. Kalau ia hanya mengandalkan honor dari ceramah agama, baik di layar televisi dengan iklan seabrek sekalipun, tentu ia hanya akan menghasilkan beberapa juta perak. Dan untuk memiliki sebuah mobil pun, ia harus menabung dulu selama bertahun-tahun.

“Kalau Bapak memang serius, saya siap menjalani hidup dalam kurungan, bukan hanya lima tetapi sepuluh tahun!” sahut penceramah muda itu, disaksikan semua yang hadir dari berbagai kalangan.

“Benar, sepuluh tahun Anda siap?” tantang pengusaha. “Bapak dan ibu sekalian, perhatikan bahwa anak muda ini sanggup dikurung selama sepulun tahun dengan bayaran dua miliar dari kantong pribadi saya!”

Semuanya berdiri tercengang, kemudian menyambut keberanian keduanya dengan bersorak-sorai dan tepuk tangan yang meriah.

***

Surat kesepakatan dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Disaksikan oleh para wartawan dan pengacara. Mereka khawatir adanya oknum-oknum tak bertanggungjawab, lalu memancing di air bening, lalu mengobok-obok air itu hingga keruh, lalu memancing lagi.

Sebelum penandatanganan surat tersebut, sang pengusaha menatap mata penceramah muda itu, lalu katanya, “Hai anak muda, uang dua miliar perak tidak ada apa-apanya buat saya. Tetapi, kamu akan kehilangan dua atau tiga tahun terbaik dalam hidupmu. Kenapa saya katakan dua atau tiga tahun? Karena kamu tidak bakal betah hidup lebih lama lagi dalam kurungan. Ketahuilah, hukuman yang kita buat ini akan lebih berat tanggungannya ketimbang hukuman penjara yang sesungguhnya. Tiap detik dan menit kamu akan terus-menerus tergoda untuk membebaskan diri. Sebab, kamu punya hak untuk keluar kapan saja, sementara di penjara tidak.”

Penceramah muda itu tidak bergeming. Ia tetap kukuh pada pendiriannya. Dibuatlah kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak. Si penceramah akan menjalani masa kurungan di bawah pengawasan ketat di sebuah paviliun yang terletak di samping rumah sang pengusaha. Juga disepakati bahwa selama masa kurungan itu ia tak punya hak untuk berjalan melewati ambang pintu. Ia tak bisa berhubungan dengan masyarakat, bahkan tak punya hak untuk menerima surat atau paket dari pihak manapun.

Ia hanya diperbolehkan berkomunikasi secara terbatas dengan dunia luar, dan itu pun hanya melalui jendela kecil yang khusus dibangun untuk itu. Ia masih diperbolehkan untuk memiliki alat musik, menikmati kopi atau rokok, juga meminta buku apa saja untuk dibaca kapan saja di dalam kurungan. Sedangkan untuk berwudlu dan melaksanakan salat, ia hanya disediakan kolam kecil yang disertai keran air, adapun salatnya tetap dilaksanakan di atas sajadah yang masih dalam lingkup kurungan.

Semua kesepakatan itu tertulis secara rinci. Maka, penceramah muda itu harus menetap di paviliun itu selama 10 tahun, mulai dari Pk. 13.00 pada tanggal 1 Oktober 2010 sampai dengan Pk. 13.00 pada tanggal 1 Oktober 2020. Kalau ia melakukan pelanggaran, sedikit saja, dari ketentuan yang sudah disepakati bersama, maka uang tebusan sebesar dua miliar akan musnah dan hangus.

***

Tahun pertama di penjara. Penceramah muda itu menderita karena dirundung kesendirian dan kesepian. Siang dan malam, dari kamarnya terdengar suara gitar yang dipetik semaunya. Ia berpantang untuk merokok dan minum minuman beralkohol. Sebab menurutnya, “Rokok itu akan merusak kesehatan serta mencemari udara di sekitar kamar, sedangkan minuman beralkohol akan memicu jalan pikiran saya pada hasrat dan keinginan, yang merupakan musuh utama bagi seorang tahanan.”

Selama tahun pertama, penceramah muda itu menerima kiriman buku-buku tentang biografi tokoh-tokoh penting. Ia pun menerima kamus bahasa Indonesia, Inggris dan Arab. Juga buku-buku cerita dalam bentuk novel, kumpulan cerpen, puisi-puisi klasik, modern dan sebagainya.

Pada tahun kedua tidak terdengar lagi suara-suara bising dari petikan gitar yang sekenanya. Penceramah itu minta dibawakan beberapa tafsir Alquran, kumpulan hadits Nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, sejarah hidup Rasulullah yang ditulis Muhammad Husain Haikal, Nahjul Balaghah karya Sayidina Ali, Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali, dan beberapa buku karya Muhammad Iqbal. Pada tahun berikutnya ia menghabiskan waktu untuk membaca karya-karya sastra dari Yunani dan Romawi kuno. Ia membaca karya-karya Shakespeare, Byron, Tolstoi, Anton Chekov dan melahap habis karya-karya Pramoedya Ananta Toer, H.B. Jassin dan Y.B. Mangunwijaya. Kemudian, ia minta dikirimkan novel berjudul Pikiran Orang Indonesia yang pernah diperkenalkan di harian Kompas, Analisa, Satelit News, Padang Ekspres, Radar Banten, Kabar Madura, Tangsel Pos dan lain-lain.

Dari buku-buku karya tokoh agama, ia minta dikirimkan karya-karya Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Abdullah Gymnastiar, dan beberapa tokoh agama dunia, dari berbagai macam agama.

Tahun keempat, suara petikan gitar kembali terdengar. Namun, kini suaranya indah dan merdu, karena ia sempat mempelajari alunan nada dan komposisi dalam bermusik. Tahun kelima, ia tidak lagi membaca buku-buku. Saat wartawan mewawancarai beberapa petugas yang mengawasinya, mereka mengatakan, ketika memasuki tahun kelima ia sering bicara sendirian seperti orang mengigau. Ia selalu bicara dan menyebut nama-nama orang yang mereka tidak mengenalinya. Pada saat duduk, berdiri dan berbaring ia terus saja bicara sendirian, kecuali diam sejenak pada saat melaksanakan salat.

Terkadang di malam hari ia duduk sambil menulis. Ia menulis dalam waktu lama kemudian di pagi harinya tiba-tiba merobek apa-apa yang telah ia tulis sepanjang malam. Sesekali ia terdengar menangis. Barangkali ia ingin punya kemampuan agar dapat menulis lebih baik dan baik lagi. Keesokannya, ia minta dikirimkan karya-karya sastra para peraih nobel, termasuk karya-karya sastra dari Timur Tengah.   

Memasuki tahun keenam, sang tahanan mulai mempe­lajari seluk-beluk bahasa dan linguistik, sejarah dunia, filsafat, teologi dan sejarah agama-agama dunia. Ia juga membaca ulang setiap karya sastra dengan tekun dan penuh semangat. Ia menekuni bidang‑bidang ini dengan laparnya sehingga sang pengusaha bersusah payah mencari waktu untuk memenuhi kebutuhan buku‑bukunya. Diperkirakan setelah memasuki tahun ketujuh, tidak kurang dari 1.900 eksemplar buku telah dibeli atas permintaan sang tahanan.

Pada pertengahan tahun ketujuh ia membuat sepucuk surat yang ditujukan kepada sang pengusaha, bahwa selama ini usahanya tidak sia-sia. Ia merasa terampil dalam mempelajari dan membedah isi dan kandungan buku, baik itu sejarah, sastra maupun filsafat. Ia menyatakan bahwa pikirannya seakan terhubung dengan para cendikiawan, sastrawan, filosof, ilmuwan, hingga kaum pendeta dan sufi. Mereka menulis dalam bahasa berbeda-beda, namun pada hakikatnya semangat yang menyala pada diri mereka adalah sama. Ia merasa bahagia karena dapat menangkap esensi dari apa yang mereka cita-citakan.

Selanjutnya, di akhir tahun ketujuh itu, sang penceranah duduk tak bergeming di depan mejanya dan hanya membaca kitab suci Alquran. Sang pengusaha terheran-heran, mengapa seorang pria yang selama tujuh tahun telah membaca 1.900 buku-buku penting, kini ia rela menghabiskan waktunya untuk membaca hanya satu buku saja. Bukankah Alquran itu tidak terlalu tebal? Bahasanya juga mudah dibaca dan dipahami, dalam terjemahan bahasa apapun?

***

Selama tiga tahun terakhir dari masa kurungannya, sang penceramah dengan edan‑edanan membaca luar biasa banyak. Ia membaca buku-buku seakan sedang berenang di lautan lepas, di antara kepingan‑kepingan kapal Titanic yang pecah berantakan. Kemudian, ia bangkit dan berupaya menyelamatkan nyawanya, serta mengumpulkan kepingan-kepingan itu untuk disatukan kembali dengan penuh semangat.

Ia menulis beberapa karya sastra, dan dipersilakan oleh sang pengusaha agar mengajukannya ke suatu penerbit di Jakarta. Di antara karya-karyanya, ada yang masuk kategori dalam jajaran best seller hanya dalam hitungan beberapa minggu saja. Kemudian karya-karya lainnya pun ikut mengalami best seller juga.

Sang pengusaha melihat kalender, lalu melihat jam dinding seraya memperingatkan para pengawas bahwa besok, sesuai dengan kesepakatan, sekitar Pk. 13.00 penceramah itu akan bebas dan berhak baginya uang sebesar dua miliar rupiah.

Dentang jam menunjukkan Pk. 04.00 dinihari. Dengan berusaha agar tidak menimbulkan suara, pengusaha itu mengeluarkan kunci pintu paviliun yang tak pernah dibuka selama sepuluh tahun. Suasana sekitar nampak gelap dan dingin. Saat itu hujan turun bersama desiran angin kencang menderu-deru. Meskipun telah memaksakan matanya, sang pengusaha tetap tak bisa melihat tanah, pepohonan bahkan bangunan paviliun di pagi buta itu.

Ia meraba-raba jalan menuju paviliun, memanggil-manggil para pengawas, namun tak ada jawaban. Barangkali para pengawas sedang mencari perlindungan dari cuaca buruk.

Akhirnya, sampailah di depan pintu utama paviliun. Ia melepas segel, membuka pintu kemudian pelan-pelan melangkah masuk. Pada awalnya ia membayangkan akan berjumpa dengan sosok penceramah muda itu, yang kini sudah menginjak usia 41 tahun. Dalam bayangannya, ia sedang menatap pemuda malang itu duduk sendirian di depan meja. Sosok yang kurus kering, dikelilingi ratusan buku-buku penting yang terbuka berserakan di atas meja, karpet, kursi dan dipan tempat tidurnya.

Ya, sepuluh tahun lamanya dalam kurunganseakan telah mengajarkannya untuk duduk tak bergemingPengusaha itu juga membayangkan, saat ia masuk ke ruangan itu, sang penceramah akan merasa terharu dan sesenggukan di pelukannya. Badannya hanya tinggal tengkorak terbalut kulit, dengan rambut gondrong dan wajah berewokan. Wajah yang pucat dan merah karena tak pernah tersentuh oleh sinar matahari. Rambutnya sudah beruban, dan tak seorang pun yang baru melihat akan percaya bahwa sosok wajah tua dan tirus itu sebenarnya baru berusia 41 tahun.

Setelah menyalakan korek api, rupanya tak ada siapa-siapa di dalam ruang paviliun itu. Ke mana penceramah muda itu? Terlihat dipan dan kasur, serta kompor di salah satu sudut ruangan. Buku-buku juga tersusun dengan rapi di samping dipan tempat tidurnya. Ia melirik ke atas meja, kemudian melihat secarik kertas berisi tulisan tangannya. Sang pengusaha mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama:

“Sahabatku yang baik, besok sekitar Pk. 13.00 saya akan mendapatkan kebebasan dan hak untuk bergaul dengan masyarakat. Namun, sebe­lum saya tinggalkan ruangan ini dan melihat cahaya matahari, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan kesepakatan kita selama ini. Sahabatku, untuk apa kita hadir di dunia ini, tanpa kita minta? Lalu, ke mana tujuan hidup kita di masadepan, bahkan sesudah kita mati? Selama sepuluh tahun terakhir saya telah mengarungi kehidupan duniawi melalui buku-buku yang Anda sediakan. Walaupun saya tidak melihat dunia secara nyata, tetapi melalui buku-buku dari karya orang-orang besar itu, saya masih bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan, lezatnya makanan dan minuman, bunga-bunga yang harum semerbak, hingga kemolekan tubuh wanita-wanita tercantik di dunia. Di situ juga saya masih bisa berpetualang mengarungi samudera dan lautan lepas, hingga mampir ke seluruh benua-benua sambil menikmati alunan musik-musik indah dan merdu, hasil karya para komposer dan musisi termasyhur di seluruh dunia. Saya juga menikmati hubungan mesra antara Laila Majnun, Romeo dan Juliet hingga Yosef dan Jamilah dalam novel Perasaan Orang Banten.

“Melalui buku-buku itu saya mendaki menelusuri puncak-puncak Himalaya, Elbruz hingga Jaya Wijaya. Di sana saya menyaksikan bagaimana matahari terbit di pagi hari, dan terbenam di sore hari. Saya melihat keindahan aurora dan pelangi-pelangi di atas awan, hutan‑hutan yang hijau, hamparan ladang dan pesawahan, sungai dan danau-danau hingga perkotaan. Dalam buku‑buku itu, saya bisa terjun dan melayang di angkasa, menciptakan segala macam keajaiban, mengarungi agama-agama dunia yang memberi saya banyak pelajaran tentang hikmah dan kebijaksanaan.

“Segala bentuk pemikiran manu­sia yang tak jemu‑jemu diciptakan selama berabad‑abad, telah terkumpul di dalam otak saya yang kecil dan hanya sebesar batok kelapa ini. Bagi saya, saat ini, segala keindahan dan kenikmatan duniawi hanyalah nisbi dan semu belaka. Kenikmatan itu bagaikan bayang-bayang ilusi yang hanya bersifat fana dan sementara belaka.

“Sahabatku, kita telah menempuh jalan yang keliru selama ini. Kita yang ditakdirkan lahir dari keluarga muslim, harus menghadapi konsekuensi untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam. Dan bila kita menyimpang dari garis itu, maka Tuhan akan memberikan teguran-teguran dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki.

Jalan keliru yang sedang kita tempuh ini, tak mungkin mendatangkan keberkahan hidup yang membahagiakan, melainkan kemalangan dan duka nestapa. Berapa banyak saya mengarungi karya-karya besar dunia, dari abad-abad sebelum masehi, hingga memasuki abad pertengahan dan abad milenial sekarang ini. Para sastrawan dan pujangga sangat fasih membahasakan kondisi umat manusia yang dilanda kesedihan dan kemalangan dalam hidupnya. Pada umumnya, mereka menghadapi situasi yang sebenarnya hasil dari pilihan mereka sendiri. Sebagaimana pilihan saya untuk bertaruh dalam menjalani hidup dalam kurungan selama sepuluh tahun ini.

“Saat ini, saya menyadari seandainya saya meraih harta sebanyak dua miliar dan membelanjakannya secara tidak berkah, maka apa artinya harta sebanyak itu ketimbang nikmat hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada saya. Saat ini, saya masih bisa bernafas, bisa mengunyah atau menelan makanan dan minuman. Saya juga masih bisa berpikir, bicara dan menulis karya sastra. Dari beberapa karya best seller yang telah saya tulis dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, saya sudah menerima prosentasi yang melimpah dari para penerbit, bahkan sudah melewati angka dua miliar&a

Bagikan:

KOMENTAR

Cerpen Supadilah Iskandar: Hidup dalam Kesunyian (1)

INILAH SERANG

2145 dibaca
Pungli, Pegawai Dishub Serang dan Disdukcapil Pandeglang Terjaring OTT
447 dibaca
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Pemkab Serang Imbau Warga Waspada

HUKUM & KRIMINAL

933 dibaca
Kapolres Serang Pimpin Sertijab Kapolsek Cikande dan Pamarayan
555 dibaca
Pengedar Pil Koplo Disergap Satresnarkoba Polres Serang Usai Belanja

POLITIK

312 dibaca
Kembangkan UMKM Kabupaten Serang, Andika Hazrumy Gagas 1 Desa 1 Produk Unggulan
1918 dibaca
Alokasi Dana Rp21 M, Panitia Dilarang Pungut Biaya ke Calon Kades

PENDIDIKAN

1671 dibaca
Lepas 24 Peserta Pramuka Lebak, Pesan Bupati Tidak Boleh Pesimis
Top