Cerpen Supadilah Iskandar
(Cerpenis generasi milenial, pengamat sastra mutakhir Indonesia)
Entah dari mana dia datang. Sore itu, saya melihat seorang pria warga Baduy kehujanan, memanggul seikat padi seberat 20 kilogram di pundaknya. Lalu, mau pergi ke mana dia di tengah guyuran hujan yang membuat seluruh badannya basah? Kenapa dia membawa-bawa seikat padi?
Mengenai hujan, seberapa deras curah hujan pada saat itu? Mengapa dia tak merasa keberatan diguyur oleh hujan? Seberapa cepat dia berjalan kaki, dan apa yang sedang dia pikirkan?
Tentu saja, banyak orang mempersoalkan warga Baduy yang sedang berjalan di tengah hujan sambil memanggul seikat beras di pundaknya. Tapi siapa yang layak melontarkan pertanyaan itu, seorang tokoh ataukah penulis itu sendiri. Apakah pertanyaan tadi sudah meliputi keseluruhan persoalan mengenai warga Baduy itu. Mengapa dia tidak mengenakan sandal atau sepatu. Bukankah itu bentuk pertanyaan lain juga?
Apakah satu pertanyaan nantinya akan melahirkan pertanyaan baru lagi. Kalau iya, gunanya apa. Tapi kalau tidak, kira-kira apa yang menjadi pertanyaan selanjutnya. Misalnya, kenapa ratusan bahkan ribuan kendaraan yang melintas di jalanan itu tak ada satu pun yang menawarkan tumpangan bagi warga Baduy itu?
Bagaimana menyangkut soal ketidakadilan dan kesewenangan yang dilakukan orang-orang berpunya, yang cenderung mengabaikan kepentingan orang-orang marjinal yang tersingkirkan?
Apakah dia bisa merasakan beban perhatian yang diarahkan kepadanya oleh berpasang-pasang mata di sepanjang perjalanan? Apakah tak ada satu pun yang berempati pada beban berat yang dipanggulnya. Kalaupun ada yang menawarkan kebaikan hati untuk memberi tumpangan, apakah si Baduy itu mau menerima atau menolaknya?
Apa makna kelelahan dan penderitaan bagi seorang warga Baduy? Apakah setiap orang sama dalam memaknai sebuah kemalangan atau nasib hidup yang mengenaskan? Mengapa ia mengenakan pakaian dengan warna hitam-hitam, dengan ikat kepala berwarna putih yang sudah mendekati abu-abu.
Mengapa warna hitam dan abu-abu itu begitu sepadan dengan warna yang terlihat di tengah dunia yang begitu kelabu, ditambah beban penderitaan di tengah guyuran hujan dari langit yang semakin kelabu?
Kita mengenal segala bentuk pertanyaan yang terlontar dan datang bertubi-tubi. Tak ada jawaban pasti yang bisa memuaskan kita semua. Ya, begitu banyak cerita yang bisa ditulis tentang seorang pria yang berjalan di tengah guyuran hujan lebat, namun hampir semuanya bernada sedih dan mengenaskan. Kecuali cerita itu tentang saya yang berada di belakang jendela sambil memelukmu, serta mengamati pria itu dari kejauhan… (*)