Sabtu, 27 November 2021

Cerpen Ramli Lahaping: Rantai Bumerang

Ilustrasi wawancara wartawan [Foto istimewa]
Senin, 18 Okt 2021 | 10:49 WIB - Suara Pembaca

“Demi perbaikan pendidikan dan kecerdasan anak-anak kita, kasus korupsi ini harus diusut sampai ke akar-akarnya,” tegas Amin, dengan penuh percaya diri.

“Apakah menurut Bapak, pengusutan kasus ini akan menyasar pajabat-pejabat yang lain?” tanya seorang wartawan.

“Kita percayakan saja kepada penegak hukum. Yang pasti, semua orang yang terlibat harus bertanggung jawab, dan kerugian negara mesti dipulihkan.”

Seorang wartawan yang lain pun meminta pendapat, “Apakah Bapak percaya bahwa penegak hukum akan mampu menuntaskan kasus ini secara baik?”

“Harapan masyarakat tentu demikian,” jawab Amin, terdengar diplomatis. “Untuk itu, kami berharap penegak hukum mengusut kasus ini secara transparan dan akuntabel, agar masyarakat turut berpartisipasi dan bisa memercayai proses penegakan hukumnya.”

Demikianlah sepenggal kutipan wawancara Amin di depan awak media beberapa saat yang lalu, sebagaimana yang tampak di layar televisi.

Sungguh, Amin merasa senang dan bangga melihat dirinya tampil sebagai tokoh dalam upaya pemberantasan korupsi. Ia merasa berarti sebagai pemimpin sebuah LSM yang getol memperkarakan para koruptor. Karena itu, seperti biasa, saat berada dalam waktu yang senggang, ia akan mencari-cari berita yang memuat pernyataannya di beragam saluran media massa, kemudian membagikannya di media sosial.

Begitu pula siang ini. Sepulang dari kantornya, Amin duduk takzim di depan layar televisi, sembari menyaksikan dirinya yang menuntut penuntasan korupsi pada dinas pendidikan kotanya. Untuk kesekian kalinya, ia memberikan pernyataan tegas agar penegak hukum segera menyelesaikan kasus terkait pendanaan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama itu. Apalagi, secara pribadi, kasus tersebut juga menyangkut kepentingan anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku kelas II SD.

Kedudukan Amin sebagai aktivis antikorupsi, tak pelak membuat dirinya terpandang di tengah khalayak, khususnya di mata orang-orang terdekatnya. Ia dianggap mewakili keresahan masyarakat yang kritikannya dianggap bukan apa-apa oleh aparatur pemerintah yang menggunakan anggaran negara secara tidak benar. Melalui suaranya, keluhan-keluhan masyarakat menggaung sampai ke pihak penegak hukum, dan merongrong hasrat para koruptor.

Atas kegigihan Amin menggemakan aksi-aksi pemberantasan korupsi, dua tahun yang lalu, ia pun diganjar penghargaan sebagai aktivis antikorupsi oleh wali kotanya di sebuah festival antikorupsi. Sang wali kota yang juga merupakan sahabatnya semasa kuliah menilai bahwa ia telah berjasa besar dalam peningkatan transparansi dan akuntabiltas penggunaan anggaran, khususnya untuk dana pendidikan di kota madyanya. Ia dianggap sebagai sosok teladan dalam menjaga integritas pribadi dan melawan tindak korupsi.

Keberhasilan Amin mengukuhkan dirinya sebagai pribadi yang dapat dipercaya, turut membuat anak dan istrinya dinilai baik oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka berdua dipandang berintegritas atas sikapnya yang sekredibel Amin. Di kantornya, sang istri dianggap sebagai perwujudan pegawai negeri yang antikorupsi dan pantas dicontoh. Sedang di sekolahnya, sang anak dipandang sebagai anak yang jujur dan patut ditiru.

Akhirnya, pandangan-pandangan positif dari mata publik membuat Amin merasa berhasil menjaga nama baiknya sekeluarga. Ia berhasil menjaga harga dirinya sebagai harga yang paling berharga. Ia berhasil menggambarkan dirinya sebagai sosok pahlawan dalam menentang aksi-aksi korup yang merajalela. Ia berhasil menahbiskan dirinya sebagai titisan malaikat yang berlawanan dengan para koruptor iblis.

Menyandang gelar sebagai sosok antikorupsi, tidak hanya membuat Amin mendapatkan penghargaan dan penghormatan di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Teman-temannya di media sosial acap kali memberikan pujian dan semangat atas aksinya sebagai pembasmi korupsi. Respons-respons demikian pun membuat ia makin teguh dan berani untuk melawan para pecuri uang rakyat, tanpa pandang bulu.

Sampai akhirnya, saat hari menjelang sore, istrinya pun datang dari kantor dengan wajah muram, seolah-olah sedang mengalami masalah yang berat. Istrinya itu lantas duduk di sampingnya, kemudian bercerita, “Pak, aku mendapatkan sentimen-sentimen negatif dari teman sekantorku atas sikap Bapak dalam pengusutan kasus korupsi di dinas pendidikan.”

Amin yang tengah masyuk menyaksikan berita-berita di layar televisi, hanya menanggapi dengan enteng, “Memangnya kenapa mereka merisaukan soal itu?” tanyanya, sembari melirik sekilas kepada sang istri. “Lagi pula, apa masalahnya sampai mereka jadi gila urusan. Mereka kan kerjanya di kantor wali kota. Kukira, mereka tak ada kaitannya dengan kasus korupsi di dinas pendidikan.”

Istrinya pun mendengkus kesal. “Tetapi berdasarkan informasi yang kudengar-dengar, Bapak Wali Kota ada kaitannya dengan kasus itu, Pak.”

Seketika, perasaan Amin pun tersentak. “Bagaimana bisa?”

Istrinya lantas mengeleng. “Aku sendiri tidak tahu jelas, Pak. Tetapi kabarnya, pihak penegak hukum akan segera memeriksanya dalam waktu dekat,” tuturnya, dengan wajah murung. “Nah, secara tidak langsung, kenyataan itu telah menyeratku ke dalam permasalahan kerja dengan teman-teman sekantorku. Mereka menilai aku sebagai istri Bapak, sedang membahayakan atau memperkarakan atasanku sendiri.”

Amin pun menghela dan mengembuskan napas yang panjang. Ia lantas menggenggam tangan istrinya. “Ibu tenang saja. Aku yakin, isu itu sengaja diembuskan dan disusupkan di dalam kasus itu oleh rival politiknya, untuk merusak nama baiknya. Setahuku, ia adalah orang yang berintegritas. Ibu tahu sendiri kalau aku mendapatkan penghargaan sebagai sosok antikorupsi atas kepercayaannya juga. Nah, bagaimana mungkin ia bisa memberikan dukungan kepadaku sebagai aktivis antikorupsi kalau ia punya niat untuk berbuat culas?”

Seolah mendapatkan pencerahan, istrinya pun tak membalas dan tampak merenung-renung saja.

“Lagi pula, siapa pun yang terlibat dalam kasus korupsi itu, ya, memang harus diadili, termasuk Bapak Wali Kota, kalau memang ada bukti kuat yang menunjukkan keterlibatannya,” lanjut Amin. “Yang penting, kita kita tidak terlibat. Bagaimanapun, kita harus menghindari tidakan-tindakan korup, demi menjaga nama baik kita sekeluarga.”

Istrinya pun mengangguk-angguk setuju, dan mulai tampak tenang atas keadaan yang ia hadapi.

Selang beberapa saat, anak semata wayang mereka pun datang dari sekolah. Anak lak-laki berusia delapan tahun itu lantas mengampiri mereka dengan wajah merengut.

“Kenapa kau tampak cemberut begitu, Nak?” tanya sang istri kemudian, sambil mengusap-usap punggung anaknya.

“Guru dan teman-temanku sepertinya tidak senang kepadaku, Bu. Mereka tampak membenciku,” tutur sang anak.

Sang istri pun jadi penasaran. “Memangnya kenapa sampai mereka berlaku seperti itu kepadamu, Nak?”

“Mereka bilang, gara-gara Ayah, kepala sekolahku dipanggil polisi,” jawab sang anak.

Sontak, Amin pun terkejut. Ia sungguh tak menduga bahwa sikapnya dalam upaya pemberantasan korupsi, juga akan berdampak pada kehidupan anaknya. “Kenapa mereka bisa bilang begitu, Nak?”

“Kata mereka, kepala sekolah terlibat kasus korupsi dana sekolah. Dan kata mereka juga, Ayah yang melaporkannya ke polisi. Apa benar begitu, Ayah?” tanya sang anak.

Dengan perasaan yang campur aduk, Amin pun menggeleng-geleng, lantas menjawab sekenanya, “Tentu bukan aku yang melaporkannya, Nak.”

Sang anak lalu menyelidik, “Tetapi kenapa ia dipanggil polisi, Ayah? Apa benar ia terlibat kasus korupsi?”

Amin kembali menggeleng. “Ia dipanggil polisi bukan berarti bahwa ia itu korupsi, Nak. Bisa saja ia hanya dimintai keterangan oleh polisi untuk menangkap pelaku korupsi yang sesungguhnya,” balasnya, sembari mengelus-elus kepala anaknya.

Seolah-olah paham, sang anak pun mengangguk-angguk lugu. “Semoga saja begitu, Ayah. Apalagi, aku tak ingin Rama, teman sebangkuku, malu untuk datang ke sekolah karena ayahnya korupsi. Korupsi itu perbuatan tidak baik, kan, Ayah? Dan orang yang melakukan korupsi itu, berarti orang jahat, kan, Ayah?”

Amin balas mengangguk. “Iya, Nak. Makanya, kau harus selalu jujur, supaya saat kau besar nanti, kau tidak terlibat korupsi.”

Sang anak pun mengangguk tegas. “Baik, Ayah.”

Akhirnya, mereka pun terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.

Sesaat kemudian, sang istri dan sang anak beranjak ke sisi yang lain.

Akhirnya, sebagai seorang aktivis antikorupsi, Amin pun merasa beruntung mempunyai istri dan anak yang bisa mengerti dan mendukung sikapnya dalam pemberantasan korupsi, dan bukan malah memintanya menyerah dan turut berbuat korup, atau setidaknya berkompromi dengan para pelaku korupsi. Keadaan itu pun membuatnya yakin bahwa nama baiknya sekeluarga akan terjaga sepanjang waktu.

Hingga akhirnya, perhatiannya tertuju pada layar televisi yang menayangkan jumpa pers dari pihak kepolisian terkait perkembangan pengusutan kasus korupsi dana pendidikan yang selama ini ia perjuangkan:

“Jadi, perkembangan terkini, kami menemukan ada indikasi keterlibatan pejabat pemerintah kota dan sejumlah pihak sekolah dalam kasus korupsi tersebut. Karena itu, hari ini, kami telah memanggil pihak-pihak terkait untuk memberikan keterangan,” tutur salah seorang petinggi kepolisian di layar kaca.

“Apakah benar bahwa Bapak Wali Kota juga terlibat dalam kasus tersebut?” tanya salah seorang wartawan.

“Itu masih berupa dugaan. Yang pasti, yang bersangkutan akan kami panggil juga untuk memberikan keterangan,” jawab sang polisi.

“Lalu, bagaimana dengan penyelenggaraan Festival Pendidikan Antikorupsi yang diinisiasi pihak pemerintah kota. Apakah benar bahwa kegiatan itu diselenggarakan dengan menggunakan dana dari hasil penyalagunaan dana pendidikan pada kasus tersebut?” tanya seorang wartawan yang lain.

“Itu juga masih dugaan. Yang pasti, jika kami telah menemukan bukti yang mengarah ke sana, pihak-pihak yang terkait dengan festival tersebut, termasuk pihak yang mendapatkan penghargaan, akan kami panggil untuk memberikan keterangan,” terang sang polisi lagi.

Dan seketika, Amin menjadi khawatir atas nasib nama baiknya.***

Ramli Lahaping. Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa disapa melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

 

Bagikan:

LAINNYA

Kucing Itu Menyatukan KembaliĀ 
Rabu, 24 Nov 2021 | 11:35 WIB
Kucing Itu Menyatukan KembaliĀ 
Budaya Literasi dalam Islam
Senin, 22 Nov 2021 | 14:14 WIB
Budaya Literasi dalam Islam
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Senin, 01 Nov 2021 | 08:57 WIB
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear
Rabu, 27 Okt 2021 | 11:36 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear

KOMENTAR

Cerpen Ramli Lahaping: Rantai Bumerang

INILAH SERANG

103 dibaca
Lanjutkan Pembongkaran THM, Pemkab Serang Terjunkan 500 Personil Satpol PP
77 dibaca
Digagas Bupati Serang, Silat Kaserangan Juara Umum Even tingkat Internasional
141 dibaca
Hari Guru Nasional ke-76 Tahun, Wabup Serang harap Kuantiti dan Kualitas Ditingkatkan

HUKUM & KRIMINAL

103 dibaca
Lanjutkan Pembongkaran THM, Pemkab Serang Terjunkan 500 Personil Satpol PP
209 dibaca
Duh, Gadis ABG Disetubuhi Orangtua Angkatnya hingga Melahirkan
325 dibaca
Rapat Bersama Pemkab Serang, Hasilnya Pembongkaran THM Dilanjutkan

POLITIK

348 dibaca
Target Golkar di 2024, Andika Tugaskan AMPI Banten Rangkul Milenial
674 dibaca
144 Kades Dilantik, Sekda Entus: Berhentikan Perangkat Desa Kades Bakal Disanksi
520 dibaca
144 Kades Terpilih Dilantik, Bupati Serang Larang Kades Ganti Perangkat Desa

PENDIDIKAN

141 dibaca
Hari Guru Nasional ke-76 Tahun, Wabup Serang harap Kuantiti dan Kualitas Ditingk...
189 dibaca
Pemkab Serang Tagih Janji Pembangunan Empat SDN Terdampak Tol Serang-Panimbang
Top