Sabtu, 18 April 2026

Belajar Mendengarkan

(foto ilustrasi_
Minggu, 02 Apr 2017 | 06:30 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Habib M

Penulis Guru dan Relawan Gerakan Membangun Nurani Bangsa

“Kebanyakan orang sibuk mencari uang agar hidup bahagia, padahal kebahagiaanlah yang kelak akan mendatangkan rizki dengan sendirinya.”

Mungkin sepuluh tahun lebih saya tidak berjumpa dengannya. Teman akrab sewaktu kuliah, satu jurusan dan satu kelas dengannya. Dia juga teman berdebat di organisasi HMI, bahkan sering menyaksikan film-film terbaru yang banyak dibicarakan publik tiap akhir pekan di salah satu bioskop 21 di Jakarta. Panggil saja namanya Fulan. Sewaktu kami nonton pertunjukan konser Metallica di Lebak Bulus belasan tahun lalu, saya masih ingat lagu kegemarannya yang berjudul Master of PuppetsAnd Justice for All dan Enter Sandman.

Di samping soal musik dan film, kami pun sering beradu argumentasi tentang filsafat Islam, khususnya mengenai takdir dan ikhtiar. Kadang sampai begadang membicarakan hal tersebut, dan tak pernah mencapai kesepakatan dan titik-temu. Ketika pendapatnya condong pada ketentuan takdir yang paling utama, saya berpendapat bahwa akibat dari perbuatan manusia yang menentukan nasib hidupnya, begitupun sebaliknya. Setelah lelah berdebat sampai subuh, dia seperti biasa melontarkan kata-kata yang masih teringat dalam memori saya: “Hidup itu rileks tapi bukan permainan Tuhan.” Entah dari lirik lagu siapa disampaikan kata-kata tersebut, dan sepertinya dia sering mengulang-ulang kalimat yang sama.

Perjumpaan dengan Fulan sebenarnya tanpa disengaja. Ketika saya diundang menghadiri acara yang bertajuk “Jurnalisme Keagamaan” di daerah Denpasar, Bali, dua minggu setelah perayaan Nyepi setahun yang lalu. Pertemuan di ruang lobi hotel itu menyentakkan tali ingatan saya. Fulan masih gagah seperti dulu, rambutnya hitam lebat, beda dengan rambut saya yang sudah banyak ditumbuhi uban, bahkan kepala bagian depan sudah agak botak. Konon dia sedang menghadiri acara pertemuan para peneliti historical memories untuk wilayah Bali, yang disponsori oleh kerjasama lembaga kebudayaan independen di Jakarta dan Belanda.

Di ruang lobi itu saya banyak bicara di hadapannya. Saya katakan bahwa saya sedang merancang suatu buku yang membahas masalah sosial-politik di negeri ini. Dengan menggebu-gebu saya sampaikan pemikiran saya mengenai rencana-rencana yang ingin saya lakukan. Saya katakan bahwa saya punya target dalam satu tahun ini untuk menulis buku maupun kumpulan esai yang akan saya garap secepatnya. Saya sampaikan unek-unek saya selama ini mengenai dunia perpolitikan Banten maupun Indonesia. Barangkali bangsa ini sedang mengidap neurosis, paranoid bahkan schizophrenia massal. Saya biarkan diri saya terhanyut di hadapan sahabat lama, seakan menjadi bagian dari kegaduhan dan kebisingan, serta ikut melibatkan diri untuk memperbising keadaan.

“Kamu mau minum teh atau kopi?” Dia memanggil pelayan dengan sopan, lalu memesan dua kopi. Rupanya Fulan masih suka ngopi seperti dulu, tapi katanya sudah tidak lagi merokok.

Setelah menghirup kopi, saya mulai lagi bicara mengenai utang-utang luar negeri, mengenai penjajahan di kebun-kebun kopi yang menguntungkan pihak makelar dan kapitalis, sementara para petani terus saja diperas tenaganya. Sesekali saya melampiaskan amarah ketika membicarakan peranan Tionghoa dengan pinjaman utang luar negeri ratusan trilyun yang mereka agendakan untuk Indonesia. Saya menghisap rokok dalam-dalam, kemudian bicara menganai strategi mereka, serta permainan politik yang mengatasnamakan tembakau dan kemasan rokok. Tak berapa lama saya menyambung ke persoalan tanah dan kebun-kebun cengkeh yang telah dikuasai oleh mereka, bagaimana pinjaman-pinjaman itu kemudian dimanfaatkan untuk hal-hal yang kurang layak peruntukannya.

“Kelihatannya kamu sedang suntuk?” kata Fulan sambil menghirup kopinya dengan santai.

“Saya cuma khawatir dengan masadepan bangsa ini,” jawab saya sambil menghela napas dalam-dalam. Setelah itu saya lanjutkan lagi perihal kondisi sekarang ini yang sedang memasuki dunia antah barantah yang begitu sibuk dan bising. Otak di kepala kita penuh dengan apa saja, hingga kita tak bisa mendapatkan sesuatu yang membuat pikiran dan perasaan diam sejenak, mengambil jarak dari situasi yang hiruk-pikuk tak karuan. Saat ini, kita seperti anak kecil yang berlarian di tengah jalan, dengan kendaraan berseliweran kian kemari, hingga kehilangan masa-masa bahagia seperti halnya kebahagiaan kita di masa kanak-kanak.

“Kau masih pintar bicara seperti dulu. Pikiranmu terlalu rasional.” Fulan menatap mata saya dengan seksama.

“Maksudmu?” tanya saya agak curiga.

“Ya, kamu masih cerdas seperti dulu.”

Astaghfirullah, bahkan saat ini, saya pun lupa tentang diri saya sendiri. Saya juga lupa detil-detil tentang masa lalu saya. Bagaimana mungkin saya bisa mengambil jarak untuk memahami diri sendiri, sementara orang lain lebih banyak mengerti tentang diri saya, juga masa lalu saya. Memang selama beberapa jam itu saya lebih banyak bicara, sementara Fulan hanya terdiam seakan mengamati garis-garis di wajah saya. Dia lebih banyak mendengarkan daripada mengoceh seperti saya.

“Saya harus segera berangkat ke Jogjakarta, karena siang ini ada acara dengan kedutaan Belanda di sana. Maaf bila saya terburu-buru, padahal saya pengen sekali ngobrol sampai begadang seperti dulu.”

Ya, Fulan benar, justru sayalah yang pengen ngobrol dengannya sampai subuh. Tapi sebelum kami berpisah, dia menanyakan saya apakah sudah membaca buku Pikiran Orang Indonesia?

“Belum,” kata saya singkat, “saya memang pernah mendengar buku itu dari wacana di Radar Banten, tapi saya belum sempat membacanya.”

“Kamu lebih banyak berteori tentang sosial-politik Banten dan Indonesia, sementara buku itu sudah menjelajah dalam bentuk karya sastra. Sebaiknya kamu sempatkan untuk membaca buku itu.”

Saya mengangguk mengiyakan, dan Fulan pun segera pamit memeluk saya sambil membisikkan sesuatu, “Barangkali ada perlunya buat kamu untuk menyendiri dalam gua, paling tidak selama 40 hari cukup. Fren, hidup ini rileks tapi bukan permainan Tuhan.”

Lagi-lagi perkataan simpel itu saya dengar dari mulutnya. Kami tertawa terkekeh-kekeh mengingat masa lalu. Tapi di balik pernyataan Fulan, barangkali ada benarnya. Sesekali saya harus mengambil jarak dari segala kegaduhan dan kesemrawutan informasi akhir-akhir ini. Sebelum berpisah saya katakan maaf, karena selama beberapa jam itu saya telah banyak menyita waktunya, terlampau banyak bicara hingga terkesan menggurui. Tapi dari beberapa pesannya Insya Allah akan saya laksanakan, terutama beberapa buku yang dia sarankan sebagai bahan bacaan penting.

Ada benarnya apa yang dikatakan Fulan. Selama ini saya terlampau sibuk berteori, mengkritisi bahkan cenderung meremehkan karya orang lain. Padahal seberapa banyak karya-karya besar justru lahir dari keheningan dan kesunyian, dari kedalaman pikiran dan perenungan yang mampu mengambil jarak dari kegaduhan.

Ya, barangkali ada benarnya bila mengamati biografi orang-orang bijak di zaman dahulu yang pernah masuk ke dalam gua-gua, menyepi dan mengasingkan diri, mengakrabi kegelapan, untuk kemudian mereka sanggup bangkit hingga menemukan cahaya terang. (*)

Redaktur: Guntur Muzijat
Bagikan:

KOMENTAR

Belajar Mendengarkan

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

570 dibaca
Satbrimob Polda Banten Evakuasi Masyarakat Terdampak Banjir
1491 dibaca
Andika: Pemprov Dukung 100% Bangun Koperasi Disetiap Desa

HUKUM & KRIMINAL

754 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Dua Pencuri Sarang Burung Walet
1456 dibaca
Dua Gembong Pembobol Rumah Diringkus Petugas Polsek Petir

POLITIK

2052 dibaca
KPU Kabupaten Serang Verifikasi Faktual Parpol
256 dibaca
Polres Serang Siapkan Hotline Kesehatan bagi KPPS dan Masyarakat

PENDIDIKAN

1521 dibaca
Ponpes Berbasis IT Dibangun di Kawasan Pariwisata Cinangka
Top