Sabtu, 18 April 2026

Banten dan Persaingan Terbuka

Senin, 17 Apr 2017 | 11:33 WIB - Suara Pembaca

Oleh : Hafis Azhari

Penulis Novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

BARANGKALI di antara pembaca ada yang pernah menonton film “Whiplash” yang disutradarai oleh Damien Chazelle, sutradara termuda 32 tahun yang pernah memenangi Oscar melalui film terbarunya, La La Land (2017). Chazelle memulai aktivitas seninya sebagai drummer kelompok musik jazz sejak SMU, kemudian melanjutkan kuliah perfilman di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Dalam film Whiplash (Pecut ), secara gamlang disampaikan pesan-pesan moral bagaimana meningkatkan kualitas SDM di era persaingan terbuka. Secara eksplisit digambarkan juga bagaimana kondisi mental seseorang atau masyarakat ketika dipecut agar melakukan perubahan di era persaingan global ini. Diawali dengan kekaguman pemuda (Milles Teller) pada seorang pelatih dan musikus terkenal (JK Simmons). Kemudian secara ambisius dia ingin menjadi pemusik jazz papan atas, mendaftarkan diri mengikuti pelatihan demi pelatihan yang dipandu oleh tokoh musik tersebut. Dalam perjalanan selanjutnya tidaklah mudah bagi sang pemuda dalam menghadapi persaingan terbuka, di tengah benturan-benturan saat dihadapkan dengan para pemusik lain yang lebih obsesif ketimbang dirinya.
 

Pada saat inilah sang pelatih memanfaatkan manajemen konflik untuk mencari bibit-bibit terbaik generasi baru yang dapat mengharumkan blantika musik jazz di Amerika yang semakin terkikis oleh jenis-jenis musik hard rock, pop maupun alternatif. Dalam era persaingan terbuka, sang pelatih memiliki tolok ukur kinerja yang biasa diterapkan dalam manajemen persaingan pada umumnya, baik di tingkat perusahaan, perdagangan hingga ke ranah politik. Akhirnya, terjadilah depresi di kalangan pemusik dan seniman yang menolak kinerja tersebut menjadi ukuran untuk mencari bibit-bibit unggul di dunia kesenian.

Secara otoriter sang pelatih musik punya anggapan bahwa kemajuan dan perubahan seseorang di bidang apapun, harus dibenturkan dulu dengan cobaan-cobaan berat, hingga mereka betul-betul mau berubah untuk maju. Bahkan dengan melebihi kewenangan Tuhan, sang pelatih berpendirian bahwa, “Sebelum rasa sakit melebihi rasa takutnya, manusia sepertinya enggan untuk berubah.” Tapi masalahnya, apakah manusia berhak menciptakan rasa takut atau rasa sakit untuk mendorong dan mencambuk seseorang agar mau berubah? Apakah hal tersebut adalah tolok-ukur satu-satunya untuk memaksakan kemajuan pada kinerja perusahaan atau pemerintahan?

Terkait dengan itu, seorang pemikir dan penulis jenius dalam manajemen konflik, Norman Triplett, pernah menyampaikan gagasannya tentang persaingan di dunia perusahaan. Hasil riset dan penelitian Triplett tentang konflik dan persaingan, ketika seorang individu mesti dibenturkan dengan individu lainnya, agar mencapai kinerja yang lebih baik, memang berbeda-beda reaksinya.

Triplett melakukan studi untuk mengukur dampak persaingan, hingga melampaui konsep-konsep konflik yang pernah digagas sejak zaman Sun Tzu hingga Adam Smith. Dalam konteks persaingan ini, Triplett menyatakan bahwa kehadiran orang lain yang melakukan tugas yang sama dengan yang kita lakukan, akan membuat kita bekerja lebih keras.

Ibaratnya Anda berniat ingin meminang pacar yang merupakan kembang desa yang cantik jelita. Kemudian pada suatu hari Anda melihat mobil sedan diparkir di depan pintu pagar sang pacar. Konon para tetangga mengabarkan bahwa mobil itu milik pacar barunya. Lantas, apakah Anda akan menjauh ke belakang, mengintip mereka berpacaran dari jarak jauh. Ataukah Anda akan semakin tertantang untuk terus maju, meskipun hanya mengendarai vespa butut?

Konsep konflik ini secara jelas tergambar dalam film Whiplash yang pernah masuk dalam nominasi Oscar (2015). Secara tersirat dinyatakan, bagaimana studi yang dilakukan Triplett tersebut tidak bisa digeneralisir oleh semua orang yang memiliki mental baja dalam menghadapi iklim persaingan. Barangkali sebagian orang memang tertantang ketika dihadapkan dengan orang yang memiliki misi untuk mencapai suatu maksud dan tujuan yang sama. Tapi sebaliknya, boleh jadi sebagian orang justru memilih mundur karena tidak tahan menghadapi realitas yang ada.

Tokoh utama dalam film Whiplash memang kurang merasa diuntungkan oleh adanya mesin persaingan, meskipun dia tetap bergelut untuk menghadapi hal tersebut. Barangkali Whiplash merupakan aplikasi yang dituangkan dalam bentuk film, dari hasil penelitian Triplett, bahwa mayoritas orang yang dikondisikan dalam suasana kompetitif terbukti makin produktif, bersemangat, termotivasi dan kinerjanya semakin baik. Tapi sebagian lain, tentu saja akan berpengaruh negatif, merasa minder, atau bahkan jatuh terpuruk. Di tengah-tengah itu, boleh jadi ada sebagian lain yang tak peduli, tidak peka terhadap persaingan, atau memang otaknya dangkal hingga enggak nyambung sama sekali.

Malahan ada seseorang yang konon jabatannya “direktur” pada suatu proyek perumahan (misalnya Perumahan Jerang Permai), sebenarnya dia sepakat dengan adagium bahwa tidak selamanya konsep konflik itu negatif. Tapi ketika dihadapkan pada kenyataan, konon jantungnya merasa deg-degan, susah tidur, karena sibuk mengejar-ngejar target perusahaan, atau dikejar-kejar target piutang oleh pihak perbankan yang belum terpenuhi.

Film Whiplash mengajarkan setiap pemimpin dan pelaku usaha harus bersikap bijak di tengah kegaduhan dan persaingan global yang semakin terbuka. Jangan terlampau sibuk mengejar-ngejar target dengan hasrat ambisi yang tak terkontrol. Karena bagaimanapun, setiap usaha yang baik dan berkah, harus didasarkan atas ketulusan dan keikhlasan berbuat dan beramal. Usaha yang baik bukanlah suatu “pemerasan”, atau yang sering disebut kalangan mahasiswa, bukanlah sejenis penjajahan gaya baru. Bukan musang yang berbulu domba. Sebab ketika bulu-bulunya dicukur akan ketahuan dekilnya.

Di sisi lain, bagi Anda yang terlampau sibuk pada hal yang bukan bidangnya, dan bukan keahliannya, mohon maaf dan harap maklum adanya. Saat ini adalah era persaingan, sebagian orang menyebutnya “era ketersingkapan”, yakni era manejemen terbuka di tengah medan pergulatan yang membuat kualitas hidup menjadi tertantang hingga semakin indah menawan. Jadi, bagi Anda yang tak sanggup bergulat, mudah jatuh dan terpuruk, dimohon ikhlas adanya. Karena bagaimanapun target yang ingin dicapai perusahaan juga terukur, dan kinerja para pegawai juga harus terus meningkat. Sama halnya dengan kinerja pada institusi pemerintahan, karena negara juga punya target untuk mencerdaskan, memakmurkan dan menyejahterakan segenap rakyatnya.

Bagaimanapun, persaingan ini mesti dikelola dengan baik. Bagi saya pribadi, bersaing dengan satu orang akan lebih baik ketimbang tidak ada persaingan sama sekali. Inilah tantangan kita semua dalam mengelola SDM di abad persaingan terbuka. Meskipun kita tidak bisa mengeneralisir alat ukur. Boleh jadi buat yang satu nampaknya efektif, tapi bagi yang lainnya justru merugikan dan menyengsarakan.

Jadi, bila kita ingin memecut perubahan, kita mesti mengenali dulu kondisi atau kekuatan mental seseorang atau masyarakat. Seperti yang terekam dalam film Whiplash, bahwa dalam iklim yang sangat kompetitif sekalipun, etika dan moralitas tetap harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Wassalam. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Banten dan Persaingan Terbuka

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

929 dibaca
Ba’da Jum’at di Masjid As-Salam, Polres Serang Bagikan Makan Siang  
1413 dibaca
Bupati Serang Akan Terapkan Mulok Pendidikan Moral Pancasila

HUKUM & KRIMINAL

1747 dibaca
Simpan Ganja Dibawah Karpet, Pemuda  di Tangerang Dibekuk
920 dibaca
Gerebeg Rumah Pengedar, Polres Serang Amankan Tersangka dan 15 Paket Sabu

POLITIK

2061 dibaca
KPU Belum Respon Rekomendasi Sanksi untuk Cawagub Nomor 2
1104 dibaca
Tatu Kampanye di Kragilan, Warga Maklumi Puspemkab Tertunda

PENDIDIKAN

1978 dibaca
KPAI Sebar Broadcast, Rektor Untirta : Kredibilitas KPAI Dipertanyakan
Top